Selasa, 06 September 2011

Hikmah


Hikmah by Alexyusandria Moenir on Monday, January 3, 2011 at 8:37am
Dalam menjalani kehidupan ini, tak henti hentinya Allah menguji hamba hamba yang dikehendakiNya dengan berbagai ujian didunia ini. Ada ujian yang berupa pujian dan hinaan, ujian kekayaan dan kemiskinan, ujian kesehatan dan penyakit serta ujian musibah yang ditimpakan melalui gempa dan bencana alam lainnya, dimana semua itu diberikan kepada manusia agar mampu mengambil hikmah dari setiap keadaan yang dialaminya, apakah dia bersyukur atau justru kufur.

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? (QS Al 'Ankabuut 29 : 2)

Masing masing kita pernah mengalami yang namanya dipuji dan disepelekan, bahkan kadang dihina dan direndahkan. Tentu saja hal ini sangat menyakitkan hati, karena secara langsung ataupun tidak perbuatan yang merendahkan ini dengan telak telah menyinggung ego kita sebagai manusia yang memiliki hati dan perasaan.

Allah tidak menyukai ucapan buruk[371], (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya[372]. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS An Nisaa' 4 : 148)

[371]. Ucapan buruk sebagai mencela orang, memaki, menerangkan keburukan-keburukan orang lain, menyinggung perasaan seseorang, dan sebagainya.

[372]. Maksudnya: orang yang teraniaya oleh mengemukakan kepada hakim atau penguasa keburukan-keburukan orang yang menganiayanya.

Bahkan ketika ada sebagian golongan lain menghina agama kita, Allah menyuruh kita bersabar.Hal ini dapat kita lihat pada suatu kejadian dimana suatu waktu Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam sedang diduduk diberanda rumah bersama istrinya Aisyah Radiyallaahu ‘anha. Lewatlah seorang yahudi yang kemudian mengolok-olok Nabi. Ia mengeluarkan kata-kata yang kasar. Aisyah beranjak dari tempat duduknya dengan muka yang merah dan hendak membalas apa yang dikatakan seorang yahudi tadi. Dengan lembah lembut, Nabi menutup mulut Aisyah dengan telapak tangannya dan berkata : Lemah lembutlah Aisyah. Allah mencintai hamba-Nya yang lembut. Allah memberi   karena kelembutan. Allah tidak memberi karena kekerasan dan tidak juga karena yang lain.” (HR Muslim)

Sebenarnya hal ini merupakan ujian Allah atas kesabaran seorang hamba yang dihina dan direndahkan oleh sesamanya, juga merupakan ujian bagi orang orang yang mempergunakan lidahnya dalam ketakbaikan.

Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.(QS Muhammad 47 : 31)

Adakalanya Allah menguji kita sebagai hambaNya melalui penyakit yang diberikan kepada kita. Bagaimanakah kita menyikapi diri dalam menghadapi penyakit yang kapan saja bisa mendera kita, karena para Nabi yang tak diragukan lagi ketaatannya kepada Allah Subhanahu wata'ala seperti Nabi Sulaiman As, Nabi Ayub As, Nabi Yakub As dan Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam juga pernah diuji Allah Subhanahu wata'ala dengan mengalami sakit. Sakit mereka bukan lantaran ketidaktaatan namun lebih karena ujian Allah Subhanahu wata'ala kepada para Nabi dan Rasul sebagai sunatullah kehidupan mereka yang pada dasarnya juga merupakan manusia biasa, sama seperti kita ini.

Belajar dari para Nabi dan Rasul bahwa saat mereka didera sakit, maka yang dilakukan mereka adalah berikhtiar dengan cara yang benar dengan terus memperkuat kesabaran, ketaatan dan berserah diri dengan sempurna dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wata'ala. Dan risalah terbaik untuk dijadikan rujukan tentunya adalah risalah terakhir yang dibawa oleh Nabi dan Rasul penutup zaman yaitu Al-Quran yang diturunkan Allah Subhanahu wata'ala kepada Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam untuk seluruh alam.

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS Yunus 10 : 57)

Dan ketika ujian Allah itu berupa bencana alam yang ditimpakan kepada manusia, tetap saja harus kita terima dengan sikap sabar dan tawakal akan ketentuan Allah itu, karena dengan musibah itu Allah mengingatkan manusia agar tafakur, mengingat segala dosa dan kesalahan yang telah diperbuatnya.

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).(QS As Syuura 42 : 30)

Adakalanya ujian Allah itu berupa kekayaan yang diberikan berlebih pada segolongan manusia dan diberikan kurang untuk golongan yang lain, yang kita kenal dengan istilah sikaya dan simiskin. Kedua golongan kaya dan miskin ini diberikan ujian melalui harta yang mereka miliki. Dimana sikaya diuji dengan kekayaannya apakah dia bersyukur dengan memanfaatkan hartanya dijalan Allah ataukah dia menjadi sombong seperti Qarun yang sombong karena hartanya yang berlimpah.

Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa[1138], maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: "Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri." Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Qarun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku." Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. (QS Al Qashash 28 : 76 - 78)

[1138]. Qarun adalah salah seorang anak paman Nabi Musa a.s.

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: "Tuhanku telah memuliakanku." Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku"[1575]. (QS Al Fajr 89 : 15 - 16)

[1575]. Maksudnya: ialah Allah menyalahkan orang-orang yang mengatakan bahwa kekayaan itu adalah suatu kemuliaan dan kemiskinan adalah suatu kehinaan seperti yang tersebut pada ayat 15 dan 16. Tetapi sebenarnya kekayaan dan kemiskinan adalah ujian Tuhan bagi hamba-hamba-Nya.

Allah menciptakan manusia dengan paras yang berbeda, ada yang cantik tampan dan ada juga yang kurang menawan atau secara kasarnya buruk rupa. Namun ketampanan, dan kecantikan maupun rupa yang sebaliknya hanyalah bentuk yang Allah berikan kepada manusia sebagai ujian bagi pemiliknya. Sebagaimana ujian Allah pada rupa yang menawan yang diberikan Allah kepada Yusuf dengan ketampanannya.

Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf): "Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka." Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa) nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: "Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia." Wanita itu berkata: "Itulah dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina." (QS Yusuf 12 : 31 - 32)

Pelajaran yang dapat dipetik dari berbagai ujian yang Allah berikan kepada manusia adalah agar manusia mampu mengambil hikmah dari setiap persoalan dan musibah yang diberikan. Dan merugilah kita ketika Allah memberikan kita ujian dalam bentuk apapun dan kita tidak bersyukur, dan malahan kita kufur. Naudzu billah min zaliq ...

Dan sesungguhnya Al Quran itu dalam induk Al Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah. (QS Az Zukhruf 43 : 4)

Wallahu a'lam bishshawab ... ^_^


Senin, 05 September 2011

Janganlah berputus asa ... bersabarlah ...


Janganlah berputus asa ... bersabarlah ... by Alexyusandria Moenir
Tiada seorang hamba ditimpa musibah baik di atasnya maupun di bawahnya melainkan sebagai akibat dosanya. Sebenarnya Allah telah memaafkan banyak dosa-dosanya. Lalu Rasulullah membacakan ayat 30 dari surat Asy Syuura yang berbunyi : "Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)." (Mashabih Assunnah)
Mengunjungi seorang sahabat yang kakinya terpaksa diamputasi oleh dokter karena alasan medis, membuat hati ini iba melihat airmuka terpaksa ikhlas yang ditunjukkannya, akibat tiada pilihan lain yang dapat dilakukannya. Tentu saja hal ini dapat dimaklumi, mengingat sekian puluh tahun dia hidup dengan anggota tubuh lengkap, namun tiba tiba dia harus berjalan dengan bantuan tongkat yang tak dapat merasakan apapun dan tak bisa dibawa jalan cepat sebagaimana yang biasa dilakukannya ketika kakinya masih lengkap.
Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan. (QS Ali ‘Imraan 3 : 186)
Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan. (QS Fushshilat 41 : 49)
Sebagai orang luar yang tidak merasakan secara langsung kepedihannya ketika harus hidup cacat dalam kondisi yang tidak pernah dialaminya, mungkin lebih mudah bagi kita untuk menasehatinya, namun andai kondisi itupun dibalikkan kediri sendiri, alangkah sulitnya bagi kita buat menerima kondisi cacat yang tiba tiba harus dialami setelah sekian puluh tahun hidup normal dengan anggota tubuh yang lengkap. Tapi begitulah seharusnya kita sebagai sesama muslim, harus saling menguatkan ketika salah satu saudara muslim kita mengalami suatu ujian yang kadang kadang membuat imannya menjadi lemah. Kita harus menyemangatinya agar dia termotivasi  kembali dengan memberinya nasehat dengan kata kata yang mampu membesarkan hatinya kembali.
Rasulullah Shallahu 'Alaihi Wassalam bersabda : ''Perumpamaan orang-orang Mukmin di dalam cinta - mencintai dan kasih - mengasihi di antara mereka ibarat satu tubuh, jika salah satu dari anggota tubuh mengeluh sakit, maka seluruh badan akan merasa demam dan tidak bisa tidur semalaman.'' (HR.Muslim)
Memang begitulah, berbagai cobaan yang hampir tiap hari akan dialami oleh manusia, berupa masalah dalam hidup yang merupakan persoalan duniawi yang takkan pernah berhenti, dan akan selalu singgah dalam setiap helaan nafas anak cucu Adam yang masih diberi kesempatan oleh Allah subhanahu wata’ala untuk menghirup bau dunia yang beraneka aroma ini. Kehidupan dengan ragam persoalan yang berada didalamnya sering membuat manusia kelimpungan dalam menghadapinya. Kadang penuh semangat menyelesaikannya, namun adakalanya timbul kejenuhan yang menuju putus harap ketika persoalan datang silih berganti seolah tiada tempat lain yang bisa disinggahi oleh masalah masalah hidup ini.
Diriwayatkan dari 'Abdullah bin 'Abbas r.a, bahwa ada seorang lelaki yang berkata: "Wahai Rasulullah, apa itu dosa besar?" Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab (artinya), 'Syirik kepada Allah, pesimis terhadap karunia Allah, dan berputus asa dari rahmat Allah." (Hasan, HR Al-Bazzar [106/lihat Kasyful Atsaar], Thabrani dalam Al-Kabiir [8783, 8784 dan 8785], dan 'Abdurrazaq [19701]).
Mereka menjawab: "Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa." Ibrahim berkata: "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat." (QS Al Hijr 15 : 55 – 56)
Banyak kejadian yang ada dikehidupan ini yang seharusnya membuat kita belajar untuk memahami, bahwa sesungguhnya hidup itu tidak seluruhnya kesenangan saja, dan juga tidak pula merupakan kesusahan berterusan, karena Allah memberikan kesenangan dan kesusahan adalah untuk menguji rasa syukur manusia terhadap nikmat Allah yang sangat banyak sekaligus untuk mengetahui sejauh mana manusia beriman terhadap Allah dan RasulNya. Karena itulah kesenangan yang dialami oleh manusia yang merupakan kebahagiaan yang tak ingin dilepaskannya, takkan pernah hadir selamanya, begitu juga dengan kesusahan yang seringkali membuat manusia menangis menanggung kesedihan, juga takkan mungkin berada selamanya dalam dirinya.
Orang yang bahagia ialah yang dijauhkan dari fitnah-fitnah dan orang yang bila terkena ujian dan cobaan dia bersabar. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih. Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: "Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku"; sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga, (QS Huud 11 : 9 – 10)
Bahkan para Nabi yang telah sering menerima banyak rahmat dari Allah subhanahu wata’ala, baik berupa mukjizat maupun berupa petunjuk lain dari Allah subhanahu wata’ala, tetap saja merasa gemetar hatinya ketika menerima berkah yang merupakan suatu hal yang mustahil dilakukan oleh seorang hamba, sehingga para nabi Allah ini segera mengambil hikmah dibalik berkah yang diberikan tersebut sebagai ujian atas keimanan mereka, akankah bersyukur atau justru sebaliknya.
Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab[1097]: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip." Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia." (QS An Naml 27 : 40)
[1097]. Al Kitab di sini maksudnya: ialah Kitab yang diturunkan sebelum Nabi Sulaiman ialah Taurat dan Zabur.
Menerima suatu masalah dengan tanpa menyerah dan lapang dada, bukanlah hal yang mudah, namun hal ini  mampu dilakukan oleh manusia yang diberikan Allah akal fikiran dan juga memiliki daya juang tinggi dalam hidupnya. Karena itulah manusia dijadikan Allah sebagai khalifah diatas bumi ini, salah satunya disebabkan sifat dasar manusia yang punya keinginan kuat dalam mempertahankan diri. Dan manusia menjadi lemah ketika setan berhasil melemahkan diri seorang hamba yang tengah lalai dengan keimanannya.
Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada seorang mukmin yang lemah dalam segala kebaikan. Peliharalah apa-apa yang menguntungkan kamu dan mohonlah pertolongan Allah, dan jangan lemah semangat (patah hati). Jika ditimpa suatu musibah janganlah berkata, "Oh andaikata aku tadinya melakukan itu tentu berakibat begini dan begitu", tetapi katakanlah, "Ini takdir Allah dan apa yang dikehendaki Allah pasti dikerjakan-Nya." Ketahuilah, sesungguhnya ucapan: "andaikata" dan "jikalau" membuka peluang bagi (masuknya) karya (kerjaan) setan." (HR. Muslim)
Oleh karena itulah manusia yang beriman akan menerima segala cobaan yang dialaminya dengan selalu berusaha bersikap sabar dan penuh rasa syukur. Tentu tidaklah mudah untuk bersabar dan bersyukur dalam kondisi diri dan hati diuji dengan cobaan yang tak seorangpun menginginkannya, tapi hal ini bukanlah hal yang tak sanggup dilakukan oleh seorang hamba Allah yang bertakwa. Dimana takwa kepada Allah, membuat kita sebagai manusia yang telah dibekali dengan warisan Kitabullah dan Sunnatullah oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam akan menjadi insan yang tak pernah berputus asa dan selalu berusaha dengan segala kemampuan yang ada, namun bertawakal menyerahkan segala hasilnya kepada Allah subhanahu wata’ala.
Seorang Muslim harus menghadapi takdir takdir Allah yang tidak mengenakkannya dengan penuh keridhaan dan kesabaran agar bisa meraih pahala atas hal itu.
Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu." Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (QS Az-Zumar 39 : 10)
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin, sesungguhnya seluruh urusannnya baik baginya. Hal itu tidak akan dimiliki oleh seseorang, kecuali bagi seorang mukmin. Bila dia memperoleh kegembiraan, dia bersyukur dan itu adalah kebaikan baginya. Namun bila dia tertimpa penderitaan, dia sabar dan itu juga kebaikan baginya”. (HR Muslim)
Ujian Allah terhadap manusia bukan saja merupakan musibah yang dialami bagi dirinya saja, namun juga bagaimana sikapnya saat melihat suatu musibah menimpa diri orang lain. Dalam hal ini, adakah seorang insan berempati terhadap masalah orang lain, ataukah justru sebaliknya mensyukuri kesusahan yang dialami oleh orang lain yang mungkin saja tidak disukainya karena berbagai sebab, atau bersikap acuh saja terhadap kesusahan orang lain. Padahal Allah memberikan setiap ujian terhadap seorang hamba, adalah agar semua manusia mampu mengambil hikmah disebaliknya. Bagi yang mendapatkan musibah, hal ini merupakan peringatan bagi dirinya dan bagi insan lain yang melihat musibah, hal ini merupakan pelajaran agar berhati hati dalam menjalani kehidupan dunianya.
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Janganlah kalian saling dengki, jangan saling menipu, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, dan jangan kalian membeli suatu barang yang (akan) dibeli orang. Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya, tidak layak untuk saling menzhalimi, berbohong kepadanya dan acuh kepadanya. Taqwa itu ada disini (beliau sambil menunjuk dadanya 3 kali). Cukuplah seseorang dikatakan jahat jika ia menghina saudaranya sesama muslim. Haram bagi seorang muslim dari muslim yang lainnya, darahnya, hartanya, dan harga dirinya” (HR. Muslim)

Sebenarnya andai kita mau belajar dari kejadian kejadian lampau yang telah diberikan Allah kepada para Nabi terdahulu, ataupun terhadap saudara saudara kita yang lain yang berada dibelahan bumi yang mungkin tidak sama dengan daerah tempat kita berdiam, akan muncul dalam diri kita sikap takut dan ta’at akan kuasa Allah subhanahu wata’ala yang membuat kita menjadi semakin merasa bahwa kita hanyalah makhluk lemah tiada daya dan tak memiliki apapun kecuali atas apa yang telah diberikan Allah kepada kita. Dan ketika Allah menguji kita dengan ujian kekayaan maupun kesusahan, berusahalah untuk tidak mengeluh dan menerimanya dengan ikhlas agar mendapatkan kebaikan untuk akhirat kita kelak.

Seorang sahabat dengan mimik serius mengajukan sebuah pertanyaan,“Ya kekasih Allah, bantulah aku mengetahui perihal kebodohanku ini. Kiranya engkau dapat menjelaskan kepadaku, apa yang dimaksud ikhlas itu?“ Nabi Shallahu 'Alaihi Wassalam kekasih Allah yang paling mulia bersabda,: “Berkaitan dengan ikhlas, aku bertanya kepada Jibril alaihi salam apakah ikhlas itu?Lalu Jibril berkata,“Aku bertanya kepada Tuhan yang Maha Suci tentang ikhlas, apakah ikhlas itu sebenarnya?“ Allah subhanahu wata’ala  yang Mahaluas Pengetahuannya menjawab,“Ikhlas adalah suatu rahasia dari rahasia-Ku yang Aku tempatkan di hati hamba-hamba-Ku yang Kucintai.“ (HR Al-Qazwini)
Wallahu ‘alam bishshawab ... ^_^

Minggu, 04 September 2011

Kapan lagi ... ?

Kapan lagi ... ? by Alexyusandria Moenir on Saturday, January 8, 2011 at 9:56pm
Waktu berjalan terus meninggalkan masa muda setiap manusia yang selalu menuju usia kian keujung. Tiada masa yang pernah kembali, begitu sang waktu memutar arah menuju kedepan. Dan yang tinggal hanyalah puing puing sesal, itupun jika hati masih memiliki penyesalan akan kesia siaan hidup didunia ini. Adakalanya kita sebagai hamba Allah membiarkan usia meninggalkan raga tanpa pernah berbuat apa apa untuk membekali diri menuju kampung halaman yang pasti yaitu akhirat. Sehingga semua hal yang dilalui dalam kehidupan ini dibiarkan berjalan tanpa sempat memikirkan akhirat yang kelak akan didatangi saat ajal menjemput.
Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu berkata : Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam memegang kedua pundakku dan bersabda : "Hiduplah di dunia ini seakan-akan engkau orang asing atau orang yang sedang lewat." Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu berkata : Jika engkau memasuki waktu sore, maka janganlah menunggu pagi; dan jika engkau memasuki waktu pagi, janganlah menunggu waktu sore; ambillah kesempatan dari masa sehatmu untuk masa sakitmu dan dari masa hidupmu untuk matimu." [Riwayat Bukhari]
Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: "Alangkah besarnya penyesalan kami, terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!", sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amat buruklah apa yang mereka pikul itu. (QS Al An'aam 6 : 31) 
Kita sering tak menyadari bahwa perputaran waktu itu sangat cepat dalam menjalani hidup ini, dari kecil, remaja, dewasa dan tua, sangatlah singkat jika hanya untuk disia siakan dalam kehidupan ini, sementara waktu untuk memohon ampunan Allah itu kadang tak pernah kita raih, dan lebih memilih menyibukkan diri dengan dunia.
Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (QS Al Kahfi 18 : 103 - 104)
Petunjuk dan hidayah itu memang merupakan hak Allah untuk memberikannya kepada siapapun yang diinginkanNya, namun tak tertutup kemungkinan bagi siapapun yang berniat untuk meraihnya, yaitu dengan usaha yang keras melatih diri dalam beribadah kepada Allah subhanahu wata'ala dan berusaha istiqhamah dalam menjalaninya.
Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah (Al Quran), Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka dan bagi mereka azab yang pedih.(QS An Nahl 16 : 104) 
Sebagai manusia yang sering melakukan dosa, baik yang kecil ataupun dosa yang besar, disengaja ataupun tidak, alangkah baiknya jika kita mulai menyadari dan bertaubat atas semua kesalahan yang telah kita lakukan tanpa perlu menunda nunda lagi, karena kita tak pernah tau kapan Allah akan mengambil hakNya atas Ruh yang telah diamanahkan buat kita masing masing hambaNya. Meskipun telah banyak tanda tanda diberikan oleh Allah melalui berbagai kejadian untuk kita ambil hikmah disebaliknya, namun kesudahannya tetap dikembalikan pada kesadaran kita sebagai hambaNya juga.
Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS An Nisaa' 4 : 110)
Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang." Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.(QS An Nisaa' 4 : 18)
Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Wahai anak Adam, sepanjang engkau memohon kepada-Ku dan berharap kepada-Ku akan Aku ampuni apa yang telah kamu lakukan. Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika dosa-dosamu setinggi awan di langit kemudian engkau meminta ampunan kepada-Ku akan Aku ampuni. Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau datang membawa kesalahan sebesar dunia, kemudian engkau datang kepada-Ku tanpa menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun, pasti Aku akan datang kepadamu dengan ampunan sebesar itu pula.” (HR. Tirmidzi, ia berkata, ”hadits ini hasan shahih.”)
Semoga tekad kita semakin kuat untuk memperbaiki akhlak dan ibadah kita dengan memohon ampunan Allah melalui taubat yang sebenarnya atas segala dosa yang telah kita lakukan, tanpa menunda nunda lagi waktu yang takkan pernah kembali, agar tiada penyesalan dikemudian hari.
Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan."(QS Al Jumu'ah 62 : 8)
Wallahu a’lam bishshawab ...

 


Hubungan orang tua dan anak menurut Al Qur’an dan Sunnah

Hubungan orang tua dan anak menurut Al Qur’an dan Sunnah by Alexyusandria Moenir at Jum’at 05 November 2010 10.90am to RM terbit 06 November 2010 06:18

Ibu,mama,bunda,umi atau apalah panggilan yang bermaksud sama adalah orang yang telah  mengandung selama sembilan bulan sepuluh hari, melahirkan lalu menyusui dan membesarkan anak dengan penuh kasih sayang. Ibu yang setiap saat siap untuk memeluk ketika ketakutan menghantui sianak, membelai ketika kesedihan mendera hati, memberi semangat ketika kekecewaan meliputi hidup.
Ibu merupakan sosok yang harus dihormati, meskipun langkah tegarnya mulai terseok seok dimakan usia. Walau pendengarannya mulai sayup diusia uzurnya. Namun ibulah yang membuat tubuh lemah sang anak tumbuh menjadi dewasa dengan kasih sayangnya, didikannya dan dorongan semangatnya yang tak pernah pudar.
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri." (QS Al Ahqaaf 46 : 15)
Seorang ibu yang pada mulanya melangkah didepan sang anak untuk mengajarnya melihat dunia, tetap akan berusaha berdiri didepan sang anak demi melindungi buah hatinya meskipun usia tua mulai menggayutinya. Tubuh renta seorang ibu sering berbuat sebagai benteng yang kokoh buat sang anak, dan kadangkala menjadi karang yang keras menanti hempasan ombak buat melindungi sibuah hati, karena seorang ibu takkan merubah hakikat sebenarnya sebagai ibu yang menyayangi anak anaknya, melindungi dan sering memperlakukan sianak seolah olah masih bayi yang rentan terhadap deraan kehidupan.
Entah kenapa, meskipun seorang anak takkan terlahir kedunia tanpa campur tangan sang ayah, namun naluri kedekatannya sering terhubung erat kepada ibu. Mungkin karena air susu ibulah yang membuat naluri anak lebih terjalin rapat dengan ibunya.Sehingga sering dikatakan bahwa surga itu terletak dibawah telapak kaki ibu.
Seorang sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, siapa yang paling berhak memperoleh pelayanan dan persahabatanku?" Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, "ibumu...ibumu...ibumu, kemudian ayahmu dan kemudian yang lebih dekat kepadamu dan yang lebih dekat kepadamu." (Mutafaq'alaih)
Kadang kala seorang anak yang telah dewasa menyia nyiakan waktunya bersama kedua orang tuanya.Melepaskan kebersamaan yang banyak dengan mereka, sehingga naluri yang semestinya dekat tersebut mulai melepaskan simpulnya akibat kesibukan duniawi yang menuntut lebih seiring waktu yang berjalan. Jika sebelumya simpul itu mulai renggang karena kesibukan orang tua yang mengejar dunia yang katanya demi kepentingan anak anak mereka,maka setelah anak anak dewasa, simpul yang renggang itupun mulai lepas satu persatu demi duniawi sianak.
Begitulah hidup membolak balikkan keadaan karena kekosongan pada hati yang dibiarkan berlarut larut dalam syahwat dunia manusia. Dimana seharusnya didalamnya tersimpan mengenai kewajiban dan hak anak terhadap orang tua dan begitu juga sebaliknya yang wajib bagi masing masing pihak untuk memenuhinya.
Tiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah-Islami). Ayah dan ibunya lah kelak yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi (penyembah api dan berhala). (HR Bukhari)
Seorang datang kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. Dia mengemukakan hasratnya untuk ikut berjihad. Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya, "Apakah kamu masih mempunyai kedua orang tua?" Orang itu menjawab, "Masih." Lalu Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Untuk kepentingan mereka lah kamu berjihad." (Mutafaq'alaih)
Meskipun kewajiban anak terhadap ibunyalah yang paling sering diutarakan, namun bukan berarti ayah tidak memiliki tempat yang penting diantara anak anaknya. Karena meskipun sering sekali posisi ayah tidaklah sedekat ibu terhadap anak anaknya, namun karena ayahlah anak bisa terlahir dari rahim ibu. Sehingga kewajiban anak terhadap ibunya juga berlaku terhadap ayah.
Barangsiapa menisbatkan keturunan dirinya kepada selain ayahnya sendiri dan dia mengetahuinya bahwa dia bukan ayah yang sebenarnya maka surga diharamkan baginya. (HR Muslim)
Keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan kedua orang tua dan murka Allah pun terletak pada murka kedua orang tua. (HR Al Hakim)
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang peranan kedua orang tua. Beliau lalu menjawab, "Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu." (HR Ibnu Majah)
Hari ini kita menjadi seorang anak, namun suatu hari akan datang masanya kita memikul tanggung jawab sebagai orang tua. Dan jika kita ingin anak kita berlaku baik pada kita sebagai orang tuanya, tentulah disaat kita sebagai anakpun harus berlaku baik pada orang tua kita masing masing.

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia[850]. (QS Al Israa’ 17 : 23)

[850]. Mengucapkan kata ah kepada orang tua tidak dlbolehkan oleh agama apalagi mengucapkan kata-kata atau memperlakukan mereka dengan lebih kasar daripada itu.

Sekarang begitu banyak kemungkaran yang terjadi dimuka bumi ini akibat kedurhakaan anak terhadap orang tuanya, dimana seringkali nasehat orang tua tersebut sudah dianggap tidak penting lagi oleh sianak.Bahkan yang paling ironisnya adalah orang tua takut dan patuh pada keinginan si anak. Hal ini jika difikirkan lebih mendalam lagi, sebenarnya bukanlah semata mata kesalahan sianak saja, namun bisa jadi merupakan kesalahan orang tua juga yang telah salah dalam cara mendidik anak.

Sebagian orang tua kadang kadang menganggap kesalahan itu sebagai hal yang wajar dilakukan oleh anak yang masih kecil karena dianggap anak belum tahu apa apa, dan berfikir bahwa anak masih belum mampu mencerna nasehat, sehingga kesalahan tersebut yang pada mulanya kecil saja, namun karena dibiarkan terus menerus maka akan menjadi kebiasaan pada si anak sehingga kesalahan tersebut berkembang semakin tidak baik. Dan disaat orang tua menyadari kekurang ajaran anak yang telah dewasa, maka segala sesuatunya sudah cukup terlambat dan sulit untuk diperbaiki lagi.

Dari Abdullah Ibnu Amar Ibnu al-'Ash Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda : "Termasuk dosa besar ialah seseorang memaki orang tuanya." Ada seseorang bertanya: Adakah seseorang akan memaki orang tuanya. Beliau bersabda: "Ya, ia memaki ayah orang lain, lalu orang lain itu memaki ayahnya dan ia memaki ibu orang lain, lalu orang itu memaki ibunya." (Muttafaq Alaihi)

Cintailah anak-anak dan kasih sayangi lah mereka. Bila menjanjikan sesuatu kepada mereka tepatilah. Sesungguhnya yang mereka ketahui hanya kamulah yang memberi mereka rezeki. (HR. Ath-Thahawi)
Bertakwalah kepada Allah dan berlakulah adil terhadap anak-anakmu. (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Rafi’ ra, telah berkata : Telah bersabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam : ‘Kewajiban orang tua terhadap anaknya adalah mengajarinya tulis baca, mengajarinya berenang dan memanah, tidak memberinya rizqi kecuali rizqi yang baik.’ (HR Al Hakim)
Jangan mengabaikan (membenci dan menjauhi) orang tuamu. Barangsiapa mengabaikan orang tuanya maka dia kafir. (HR Muslim)
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun[1180]. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS Luqman 31 : 14)
[1180]. Maksudnya: Selambat-lambat waktu menyapih ialah setelah anak berumur dua tahun.
Hubungan antara orang tua dan anak ibarat lingkaran yang takkan pernah putus, saling terhubung satu sama lain, meskipun terjadi perceraian antara ayah dan ibu, namun anak tak kan pernah kehilangan hak dan kewajiban terhadap ayah dan ibunya, begitu juga sebaliknya ayah dan ibu tetap memiliki kewajiban dan tidak kehilangan hak terhadap anak nya dunia dan akhirat.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : ‘Bukanlah dari golongan kami yang tidak menyayangi yang lebih muda dan ( bukan dari golongan kami ) orang yang tidak menghormati yang lebih tua.’ (HR At Tirmidzy)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh merugi, sungguh merugi, dan sungguh merugi orang yang mendapatkan kedua orangtuanya yang sudah renta atau salah seorang dari mereka kemudian hal itu tidak dapat memasukkannya ke dalam surga.” (HR Muslim)

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil." (QS Al Israa’ 17 : 24)

Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan." (QS Nuh 71 : 28)

Wallahu a'lam bishshawab