Rabu, 07 September 2011

Nasehat buat anak anakku

Nasehat buat anak anakku by Alexyusandria Moenir on Tuesday, February 1, 2011 at 8:08pm
Duhai anak anakku tercinta, sejak dari dalam rahim ibunda rawat kalian dengan penuh kasih, lalu dengan bersabung nyawa bunda lewati proses persalinan yang menyakitkan, namun penuh kebahagiaan ketika pertama kali mendengarkan pekik tangis dari mulut mungil kalian. Alhamdulillah, bunda berdo’a dengan rasa haru dan syukur begitu melihat wajah mungil kalian yang kemerah merahan, semoga Alalh menjadikan kalian anak  anak yang saleh dan salehah serta berilmu pengetahuan .. Amien Ya Rabb.
Anak anakku sayang, setelah tiba waktu yang tepat, kami selaku orang tua kalian memberikan nama yang baik yang telah kami fikirkan dalam waktu yang lama, ketika belum memiliki kalian sebagai anak dan masih berupa angan angan dari fikiran bahagia saat membayangkan suatu hari Allah akan memberikan kami zuriat yang menawan dan dengan harapan kelak memperoleh anak yang saleh maupun salehah sebagai buah kasih tempat kami berbagi sayang terhadap kalian.
Seorang datang kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya, " Ya Rasulullah, apa hak anakku ini?" Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, "Memberinya nama yang baik, mendidik adab yang baik, dan memberinya kedudukan yang baik (dalam hatirnu)." (HR. Aththusi)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra : Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (tidak mempersekutukan Allah) tetapi orang tuanya lah yang menjadikan dia seorang yahudi atau nasrani atau majusi sebagaimana seekor hewan melahirkan seekor hewan yang sempurna. Apakah kau melihatnya buntung?” kemudian Abu Hurairah membacakan ayat-ayat suci ini : Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui[1168], (QS Ar Ruum 30 : 30)
[1168]. Fitrah Allah : maksudnya ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan.
Meskipun memiliki kalian, mengakibatkan kami menerima suatu tanggung jawab yang besar dunia akhirat, namun kami ikhlas dan bahagia menerima amanah dari Allah subhanahu wata’ala tersebut. Anak anakku sayang, meskipun merawat kalian yang setiap malam membangunkan ibunda yang sedang terlelap sehingga membuat waktu tidur ibunda yang kelelahan sehabis melahirkan kalian menjadi berkurang, namun dengan kebahagiaan dan mata terkantuk kantuk, bunda bersihkan popok bekas yang telah basah dan kotor, dan ganti dengan yang bersih, sembari mendendangkan kalian yang masih terjaga minta diberikan susu.
Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS Al Baqarah 2 : 233)
Anak anakku terkasih, waktu begitu cepat berlalu, semenjak pertama kali ibunda mengajarkan kalian cara berjalan, lalu berbicara dengan mulut mungil kalian yang berucap masih terpatah patah itu, kini disaat menurut bunda kalian tetaplah bayi kecil bunda yang masih perlu bimbingan dan perlindungan,tiba tiba bunda melihat kalian telah tumbuh besar, dan sepertinya tidak memerlukan tangan ini lagi buat membimbing kalian ketika melangkah. Alhamdulillah ... rasa syukur ini tak pernah berhenti mengalir melihat semua kebaikan yang telah diberikan Allah pada anak anak tercintaku ini.
Keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan kedua orang tua dan murka Allah pun terletak pada murka kedua orang tua. (HR Al Hakim)
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri." (QS Al Ahqaaf 46 : 15)
Sayang buah hatiku, dari kecil bunda besarkan dan ketika tiba masanya guru guru disekolah membantu kami orang tua dalam mendidik kalian, betapa kami merasakan pengetahuan yang telah kami berikan pada kalian sepertinya sangat kurang dan jauh tertinggal dibandingkan ilmu yang harus kalian pelajari disekolah secara terus menerus selagi usia kalian masih muda dan kami masih sanggup membiayainya. Jangan sia siakan waktumu anak anakku, karena sesuatu hal yang tak pernah bisa kalian raih lagi adalah waktu, karena sang waktu akan terus bergulir meninggalkan masa yang terus berganti.
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS Al Ashr 103 : 1 – 3)
Bahkan Allah subhanahu wata’ala sang Khalik, sering bersumpah demi waktu, dan itu bisa kalian lihat jika kalian tetap melakukan kebiasaan kebiasaan yang pernah bunda ajarkan pada kalian, yaitu membaca Al Qur’an, karena sesungguhnya didalam Kalamullah itu sarat dengan hikmah dan sumber ilmu pengetahuan, anakku.
Dan sesungguhnya Al Quran itu dalam induk Al Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah. (QS Az Zukhruf 43 : 4)
Intan buah hatiku dengarkanlah kata kata bunda ini, jika waktu adalah kehidupan & umur yang sebenarnya bagi manusia, maka penjagaannya merupakan pokok setiap kebaikan, penyia-nyiaannya merupakan pokok setiap kejelekan, karena itu fikirkanlah anakku, betapa berharganya waktu dalam kehidupan seorang Muslim, apa yang diwajibkan bagi seorang Muslim terhadap waktunya, apa saja penyebab penyebab yang dapat membantu untuk menjaga waktu, dan dengan apa seorang Muslim dapat memanfaatkan waktunya, karena kelak anakku, kalian akan ditanya mengenai waktu yang telah kalian lalui ini diakhirat kelak saat kiamat sudah menimpa dunia beserta isinya ini.
Dari Muadz bin Jabal bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : "Tidak akan bergerak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya pada apa dia habiskan, tentang masa mudanya pada apa dia luangkan, tentang hartanya darimana dia dapatkan dan untuk apa dia pergunakan, dan tentang ilmunya apa yang dia amalkan padanya" [HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh Al-Albani]
Wahai permata hatiku, disaat usia bunda kian digerogoti oleh sang waktu, sebenarnya kalian pun juga makin dewasa, karena itu, dengarkanlah baik baik semua perkataan bunda ini, walaupun pendidikan kalian jauh lebih tinggi dari kami orang tua kalian, namun bagi kami, kalian tetaplah anak anak kami yang masih bisa kami nasehati, masih bisa kami berikan pengajaran, karena kami memiliki kuasa dan amanah langsung dari Allah subhanahu wata’ala dalam mendidik kalian. Karena itu anakku, janganlah ilmu yang kalian miliki membuat kalian menjadi sombong dan jauhkanlah dari diri dan hati kalian keangkuhan walau sedikit, andai kalian memiliki kelebihan harta nantinya.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang peranan kedua orang tua. Beliau lalu menjawab, "Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu." (HR Ibnu Majah)
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh[294], dan teman sejawat, ibnu sabil[295] dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, (QS An Nisaa’ 4 : 36)
[294]. Dekat dan jauh di sini ada yang mengartikan dengan tempat, hubungan kekeluargaan, dan ada pula antara yang muslim dan yang bukan muslim.
[295]. Ibnus sabil ialah orang yang dalam perjalanan yang bukan ma'shiat yang kehabisan bekal. Termasuk juga anak yang tidak diketahui ibu bapaknya.
Sayang belahan jiwaku, andai Allah memberikan berkah ilmu pengetahuan kepada kalian, maka itu tandanya kalian diamanahkan buat mengamalkannya dalam kebaikan agama Islam yang telah diridhai Allah untuk kita anut ini dan mengajarkannya kepada saudara sudara Muslim kita yang lain. Duhai anakku, andaikan kalian diberikan kelebihan dalam harta, maka itu maknanya kalian diberi kesempatan buat melakukan banyak amalan baik dengan bersedekah, membantu fakir miskin dan memanfaatkan harta yang kalian miliki dalam kebaikan sesuai syari’atNya.
Dunia dihuni empat ragam manusia. Pertama, seorang hamba diberi Allah harta kekayaan dan ilmu pengetahuan lalu bertakwa kepada Robbnya, menyantuni sanak-keluarganya dan melakukan apa yang diwajibkan Allah atasnya maka dia berkedudukan paling mulia. Kedua, seorang yang diberi Allah ilmu pengetahuan saja, tidak diberi harta, tetapi dia tetap berniat untuk bersungguh-sungguh. Sebenarnya jika memperoleh harta dia juga akan berbuat seperti yang dilakukan rekannya (kelompok yang pertama). Maka pahala mereka berdua ini adalah (kelompok pertama dan kedua) sama. Ketiga, seorang hamba diberi Allah harta kekayaan tetapi tidak diberi ilmu pengetahuan. Dia membelanjakan hartanya dengan berhamburan (foya-foya) tanpa ilmu (kebijaksanaan). Ia juga tidak bertakwa kepada Allah, tidak menyantuni keluarga dekatnya, dan tidak memperdulikan hak Allah. Maka dia berkedudukan paling jahat dan keji. Keempat, seorang hamba yang tidak memperoleh rezeki harta maupun ilmu pengetahuan dari Allah lalu dia berkata seandainya aku memiliki harta kekayaan maka aku akan melakukan seperti layaknya orang-orang yang menghamburkan uang, serampangan dan membabi-buta (kelompok yang ketiga), maka timbangan keduanya sama. (HR Tirmidzi dan Ahmad)
Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS Al Baqarah 2 : 195)
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ayat ini (S. 2: 195) turun berkenaan dengan hukum nafkah. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari Hudzaifah)
Dalam riwayat lain dikemukakan peristiwa sebagai berikut: Ketika Islam telah berjaya dan berlimpah pengikutnya, kaum Anshar berbisik kepada sesamanya: "Harta kita telah habis, dan Allah telah menjayakan Islam. Bagaimana sekiranya kita membangun dan memperbaiki ekonomi kembali?" Maka turunlah ayat tersebut di atas (S. 2: 195) sebagai teguran kepada mereka, jangan menjerumuskan diri pada "tahlukah" (meninggalkan kewajiban fi sabilillah dan berusaha menumpuk-numpuk harta) (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Hibban, al-Hakim dan yang lainnya yang bersumber dari Abi Ayub al-Anshari. Menurut Tirmidzi hadits ini shahih)
Menurut riwayat lain, tersebutlah seseorang yang menganggap bahwa Allah tidak akan mengampuni dosa yang pernah dilakukannya. Maka turunlah "Wala tulqui biaidikum ilat-tahlukah." (Diriwayatkan oleh at-Thabarani dengan sanad yang shahih dan kuat, yang bersumber dari Jabir an-Nu'man bin Basyir. Hadits ini diperkuat oleh al-Hakim yang bersumber dari al-Barra)
Anak anakku sayang, melihat usiamu yang kian beranjak dewasa, akan tiba masanya nanti kalian menjalankan sunnah junjungan kita Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, yaitu menikah. Kami sebagai orang tua, tidak akan menentukan siapapun calon yang kelak akan mendampingi kalian, karena bukan dunianya yang kami lihat namun akhiratnyalah yang kami cari. Sebagaimana bunda dahulu menikah dengan ayah kalian, maka begitu juga hendaknya kalian mendapatkan pendamping yang baik dunia akhirat buat menjalani kehidupan yang fana ini.
Abdullah Ibnu Mas'ud Radliyallaahu 'anhu berkata : Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda pada kami : "Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia kawin, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu." (Muttafaq Alaihi)
Wahai sayangku, andai kalian memilih seorang pendamping kelak, janganlah kalian lihat dari rupanya yang tampan dan cantik, namun cobalah kalian perhatikan akhlak dan akidahnya. Karena ketampanan dan kecantikan, akan musnah saat tubuh dikuburkan dalam tanah, sedangkan akhlak dan akidah yang baik akan kekal untuk dibawa keakhirat kelak.
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda : "Perempuan itu dinikahi karena empat hal, yaitu : harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Dapatkanlah wanita yang taat beragama, engkau akan berbahagia." (Muttafaq Alaihi dan Imam Lima)
Karena itu anak anakku, jagalah diri dan kehormatan kalian jika ingin mendapatkan pendamping yang baik dan terhormat sesuai syari’at. Karena bagaimana mungkin jika kalian berkubang dalam lumpur, lalu mengharapkan pendamping yang bersih lagi suci untuk kalian nikahi?
Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)[1034]. (QS An Nuur 24 : 26)
[1034]. Ayat ini menunjukkan kesucian 'Aisyah r.a. dan Shafwan dari segala tuduhan yang ditujukan kepada mereka. Rasulullah adalah orang yang paling baik maka pastilah wanita yang baik pula yang menjadi istri beliau.
Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin[1028]. (QS An Nuur 24 : 3)
[1028]. Maksud ayat ini ialah: tidak pantas orang yang beriman kawin dengan yang berzina, demikian pula sebaliknya.
Wahai belahan jiwaku, kelak jika engkau telah menikah dan mendapatkan pendamping yang saleh dan salehah, janganlah lalai dalam menjalani hidup ini anakku, karena suatu hari, Insya Allah kalian juga akan dikaruniai zuriat oleh Allah subhanahu wata’ala, maka ingat ingatlah selalu untuk mendidik anak kalian baik baik, karena anak merupakan tanggung jawab kalian dunia akhirat, karena itu, jika kalian ingin anak kalian memiliki akhlak yang baik, maka berikanlah kepada mereka makanan yang baik baik pula yang berasal dari penghasilan yang halal. Jangan sampai kalian memakan dari harta yang bathil yaitu kalian mengambil hak yang menjadi milik orang lain.
Tiap tubuh yang tumbuh dari (makanan) yang haram maka api neraka lebih utama membakarnya. (HR Ath-Thabrani)
Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. (QS An Nahl 16 : 114)
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah[394], daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya[395], dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah[396], (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini[397] orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa[398] karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al Maa’idah 5 : 3)
[394]. Ialah : darah yang keluar dari tubuh, sebagaimana tersebut dalam surat Al An-aam ayat 145.
 [395]. Maksudnya ialah: binatang yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk dan yang diterkam binatang buas adalah halal kalau sempat disembelih sebelum mati.
[396]. Al Azlaam artinya: anak panah yang belum pakai bulu. Orang Arab Jahiliyah menggunakan anak panah yang belum pakai bulu untuk menentukan apakah mereka akan melakukan suatu perbuatan atau tidak. Caranya ialah: mereka ambil tiga buah anak panah yang belum pakai bulu. Setelah ditulis masing-masing yaitu dengan : lakukanlah, jangan lakukan, sedang yang ketiga tidak ditulis apa-apa, diletakkan dalam sebuah tempat dan disimpan dalam Ka'bah. Bila mereka hendak melakukan sesuatu maka mereka meminta supaya juru kunci Ka'bah mengambil sebuah anak panah itu. Terserahlah nanti apakah mereka akan melakukan atau tidak melakukan sesuatu, sesuai dengan tulisan anak panah yang diambil itu. Kalau yang terambil anak panah yang tidak ada tulisannya, maka undian diulang sekali lagi.
[397]. Yang dimaksud dengan hari ialah: masa, yaitu: masa haji wada', haji terakhir yang dilakukan oleh Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam
[398]. Maksudnya: dibolehkan memakan makanan yang diharamkan oleh ayat ini jika terpaksa.
Anak anakku sayang, jangan pernah lelah mendengarkan nasihat bunda ini, karena sesungguhnya hidup ini tidaklah mudah jika kalian tidak memiliki orang tua buat mendidik dan mengajari kalian, karena kelak kalian bisa mendapatkan pahala dari Allah karena kalian telah berbuat baik pada kami, terutama diusia lanjut kami, dimana mungkin saja kami sudah pikun dan terlalu uzur buat berfikir dan melakukan banyak hal, sehingga membutuhkan kalian buat membantu kami.
Sesungguhnya masih banyak yang belum bunda sampaikan kepada kalian anak anakku, namun usia membuat bunda saat ini harus berhenti, karena tubuh renta ini mulai merasakan kelelahan untuk  melanjutkan. Meskipun begitu, jangan sampai kalian lupa akan nasehat yang kalian terima, walaupun tidak banyak namun cobalah untuk mengamalkannya.Demi kebaikan dunia akhirat kalian anak anakku, dan kita semuanya.
Seorang sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, siapa yang paling berhak memperoleh pelayanan dan persahabatanku?" Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, "ibumu...ibumu...ibumu, kemudian ayahmu dan kemudian yang lebih dekat kepadamu dan yang lebih dekat kepadamu." (Mutafaq'alaih)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh merugi, sungguh merugi, dan sungguh merugi orang yang mendapatkan kedua orangtuanya yang sudah renta atau salah seorang dari mereka kemudian hal itu tidak dapat memasukkannya ke dalam surga.” (HR Muslim)
 Wallahu a'lam bishshawab ...



Selasa, 06 September 2011

Tepatilah Janji dan Sumpah

Tepatilah Janji dan Sumpah by Alexyusandria on RM Senin 29 November 2010 14 : 13
Titian binaso lapuak, janji binaso mungkia. (Artinya : Jembatan bisa binasa karena lapuk dan janji bisa binasa karena diingkari). Pepatah tua dari Minangkabau ini sering sekali diplesetkan menjadi “Titian biaso lapuak, janji biaso mungkia”. (Artinya : Jembatan sudah biasa menjadi lapuk dan janji merupakan hal biasa jika diingkari).
Pengingkaran janji yang sering kita lakukan sebagai manusia memang lumrah terjadi, karena berbagai alasan, yang kadang kadang tepat namun bisa juga karena dicari cari atau mengada ada.Padahal janji yang telah terucap merupakan utang yang harus dibayar, karena Allah akan meminta pertanggung jawabannya kelak dihari akhir, dimana seluruh amalan baik dan buruk akan ditimbang dengan seadil adilnya oleh Allah subhanahu wata’ala.
Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya (QS Al Israa’ 17 : 34)
Pernahkah kita menyadari bahwa kekecewaan yang kita rasakan akibat pengingkaran janji oleh seseorang terhadap kita juga akan berdampak sama ketika kita tidak menepati janji kita pada orang lain?
Lidah memang tidak bertulang,namun bukan menjadi alasan ketika kata kata yang telah keluar tidak dipertanggung jawabkan oleh masing masing pribadi ketika mengucapkannya,karena sesungguhnya manusia itu yang dipegang adalah kata katanya.Oleh sebab itu seharusnya kita berhati hati dalam mengeluarkan kata apapun dari mulut kita terhadap orang lain. Terutama kata kata yang berupa janji, sebaiknya fikirkan dahulu sebelum mengucapkannya.
Janji yang telah terlafazkan dari mulut kita akan dicatat oleh kedua Malaikat pencatat amalan baik dan amalan buruk manusia yang tak pernah lalai dalam mengisi buku agenda penilaian masing masing manusia. Lagipula, janji bukan saja hanya sekedar kata kata saja, tapi juga bisa berupa sumpah yang kita ucapkan terhadap seseorang maupun waktu seseorang bersumpah ketika menerima suatu jabatan yang bersedia dipikulnya sebagai amanah yang harus dipenuhi untuk dipertanggung jawabkan kelak diakhirat.
Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun[140]. (QS Al Baqarah 2 : 225)
[140]. Halim berarti penyantun, tidak segera menyiksa orang yang berbuat dosa.
Begitu besar pengaruh janji yang telah diucapkan oleh seseorang, sebenarnya bukanlah hal baru dalam kehidupan manusia, karena sesungguhnya masalah janji ini telah ada sejak zaman manusia diciptakan. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, bapak para nabi dan Imam ahlut tauhid merupakan orang yang menepati janji, sehingga dalam Al Qur’an Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji? (QS An Najm 53 : 37)
Maksudnya bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam telah melaksanakan seluruh perintah  Allah Subhanahu wa Ta’ala yang merupakan ujian buatnya baik dari syariat, pokok-pokok agama, maupun  cabang-cabangnya.
Dan juga Nabi Ismail yang menepati janjinya ketika dia bersedia buat memenuhi apapun yang Allah perintahkan, sehingga ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim buat menyembelih Nabi Ismail melalui mimpi Nabi Ibrahim, Nabi Ismailpun menyatakan kesediaannya dan menepati janjinya tersebut.
Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi.  (QS Maryam 19 : 54) 
Begitu juga dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang memang berakhlak terbaik sebagai nabi penutup diakhir zaman, beliau terkenal sangat jujur dan amanah. Tak satupun janji yang telah beliau ucapkan yang tidak ditepati, bahkan janji terhadap orang kafirpun selalu beliau tepati. Meskipun seringkali terjadi,para kafirun lah yang selalu mengingkari janjinya.
Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu[1208] dan mereka tidak merobah (janjinya), (QS Al-Ahzab 33 : 23)
[1208]. Maksudnya menunggu apa yang telah Allah janjikan kepadanya.
Begitu pentingnya menepati janji bagi orang mukmin, sehingga kita sebagai generasi di ujung zaman, seharusnya juga mengikuti sunnah yang telah diwariskan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat serta pengikutnya yang patuh dan taat akan ajaran beliau yang memang bersumberkan dari Kalamullah tersebut.
Jika kita mengingkari janji dan sumpah yang telah diucapkan karena Allah subhanahu wata’ala, maka pengingkaran yang kita lakukan tersebut tak ubahnya ibarat iblis yang memang tak pernah menepati janji dan selalu mengumbar janji janji manis saja untuk membujuk rayu manusia agar termakan godaannya. Dan termasuk orang munafiklah jika kita berjanji tapi tak menepatinya.
Dan ketika syaitan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: "Tidak ada seorang manusiapun yang dapat menang terhadapmu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu." Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), syaitan itu balik ke belakang seraya berkata: "Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya saya takut kepada Allah." Dan Allah sangat keras siksa-Nya. (QS Al Anfaal 8 : 48)
Pada waktu perang Badr, Iblis datang bersama para setan pasukannya dengan membawa bendera. Ia menjelma seperti seorang lelaki dari Bani Mudlaj dalam bentuk seseorang yang bernama Suraqah bin Malik bin Ju’syum. Ia berkata kepada kaum musyrikin : “Tidak ada seorang manusia pun yang bisa menang atas kalian pada hari ini. Dan aku ini sesungguhnya pelindung kalian.” Tatkala dua pasukan siap bertempur, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil segenggam debu lalu menaburkannya pada wajah pasukan musyrikin sehingga mereka lari ke belakang. Kemudian malaikat Jibril mendatangi Iblis. Ketika Iblis melihat Jibril dan waktu itu tangannya ada pada genggaman seorang lelaki, ia berusaha melepaskannya kemudian lari terbirit-birit beserta pasukannya. Lelaki tadi berkata: Wahai Suraqah, bukankah kamu telah menyatakan pembelaan terhadap kami?” Iblis berkata: “Aku melihat apa yang tidak kamu lihat.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/330 dan Ar-Rahiq Al-Makhtum hal. 304)

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Siapa yang ada padanya empat karakter, maka ia adalah seorang munafik sejati: Yang bila bicara, berdusta; bila berjanji, ingkar janji; bila membuat perjanjian, berkhianat dan bila bertengkar, sadis (berlebihan dalam memerangi). Siapa yang ada padanya salah satu darinya, maka berarti ada padanya satu kemunafikan hingga ia meninggalkannya." (HR Bukhari  3178)
Tentu saja jika kita benar benar memahami ajaran Rasulullah yang mengutamakan masalah janji yang harus ditepati ini, kita akan hati hati dalam mengucapkan janji terhadap sesama karena takut tak mampu untuk menepatinya. Apalagi bila janji itu diucapkan dalam sumpah yang dilakukan dengan kesadaran penuh, dimana saat melahirkan sumpah tersebut, Malaikat mencatatnya dalam agenda amalan baik dan buruk manusia untuk nanti akan dibentangkan diakhirat dalam pengadilan akhir dimana Allah akan menjadi hakim yang paling Adil tanpa membeda bedakan manusia dan menilai sesuai dengan  catatan amalannya.
Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. (QS An Nahl 16 : 91)
Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu)[519], dan penuhilah janji Allah[520]. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat. (QS Al An’aam 6 : 152)
[519]. Maksudnya mengatakan yang sebenarnya meskipun merugikan kerabat sendiri.

[520]. Maksudnya penuhilah segala perintah-perintah-Nya.
Bahkan terhadap orang kafirpun kita harus menepati janji selama waktu kesepakatan yang telah kita buat dengannya dan selama orang kafir itu tetap berkomitmen terhadap perjanjian yang telah disepakati tersebut.
kecuali orang-orang musyrikin yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatu pun (dari isi perjanjian)mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya[629]. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa. (QS At Taubah 9 : 4)
[629]. Maksud yang diberi tangguh empat bulan itu ialah: mereka yang memungkiri janji mereka dengan Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Adapun mereka yang tidak memungkiri janjinya maka perjanjian itu diteruskan sampai berakhir masa yang ditentukan dalam perjanjian itu. Sesudah berakhir masa itu, maka tiada lagi perdamaian dengan orang-orang musyrikin.
Bagaimana bisa ada perjanjian (aman) dari sisi Allah dan RasulNya dengan orang-orang musyrikin, kecuali orang-orang yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) di dekat Masjidil haraam[632]? maka selama mereka berlaku lurus terhadapmu, hendaklah kamu berlaku lurus (pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.(QS At Taubah 9 : 7)
[632]. Yang dimaksud dengan dekat Masjidilharam ialah: Al-Hudaibiyah, suatu tempat yang terletak dekat Makkah di jalan ke Madinah. Pada tempat itu Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam mengadakan perjanjian gencatan senjata dengan kaum musyrikin dalam masa 10 tahun.
Betapa sederhananya sebuah kata kata yang keluar dalam bentuk janji, namun sungguh berat pertanggung jawaban buat menepatinya.Bukan saja janji terhadap sesama namun yang paling berat adalah janji karena Allah subhanahu wata’ala.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (QS Al Anfaal 8 : 27)
Kita sangat beruntung sebagai ummat Nabi Muhammad, karena Rasulullah telah meninggalkan tuntunan yang sempurna buat kita ikuti dalam bentuk Al Qur’an dan Sunnah yang telah beliau wariskan. Dan sebagai bentuk salah satu keta’atan kita akan ajaran Rasulullah tersebut, maka marilah kita bersama sama mulai membentuk pribadi diri yang jujur, dan amanah dengan cara berhati hati dalam mengucapkan janji dan sumpah serta berusaha untuk menepatinya, karena kita sama sama menyadari bahwa janji dan sumpah tersebut akan dipertanggung jawabkan kelak dihadapan Allah Subhanahu wata’ala.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : "Perlindungan Muslim itu (seperti) satu kesatuan, (dapat) diupayakan oleh kalangan bawah di antara mereka; siapa saja yang mengkhianati seorang Muslim, maka mendapat laknat Allah, Malaikat dan seluruh manusia, tidak diterima syafaat dan fidyah darinya." (HR Bukhari : 3179)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan kepada umatnya bahwa perjanjian tidak boleh dibatalkan tetapi harus ditepati dalam sabdanya, "Aku tidak melanggar perjanjian dan tidak membunuh para utusan." (HR Abu Daud : 2758 dan diriwayatkan Imam Ahmad di dalam Musnad al-Anshar.)
Wallahu a'lam bisshawab ...