Kamis, 25 Agustus 2011

Buat sahabat tercinta ... bersabarlah ...


Buat sahabat tercinta ... bersabarlah ... by Alexyusandria Moenir on Sunday, May 22, 2011 at 11:10pm
Ada kesedihan menyeruak dihati, melihat wajah letih seorang sahabat yang tak henti dirundung malang ... Betapa kesabaran yang mesti disediakan hati harus berlapis agar dapat menahan kepedihan yang menimpa, dan dibutuhkan kekuatan setegar gunung agar diri tidak lenyap dibawah komando setan yang selalu setia mengintai insan insan yang lemah.

"Sungguh Allah sangat sayang pada hambaNya, sehingga ujian yang diberikan tidak pernah berhenti" Begitu dia pernah berkata dengan nada sumbang, menahan kepedihan yang terus menghunjam jantung.

Tanpa pernah berharap jawaban, airmatanya mengalir perlahan lahan menuruni pipi yang mulai cekung menahan derita.Sesungguhnya waktu merupakan obat terbaik dalam menghilangkan nestapa, namun waktu jualah yang memberikan kesempatan kepada nestapa buat datang menghampiri siapapun yang dikehendaki oleh sang Pencipta Yang Agung ...

Kesabaran, merupakan tanaman yang sulit tumbuh dihati yang gersang, namun andaikan bisa dipupuk subur, buahnya sangatlah manis ketika tiba waktunya untuk dipetik.

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin[1218], laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.(QS Al Ahzaab 33 : 35)

[1218]. Yang dimaksud dengan muslim di sini ialah orang-orang yang mengikuti perintah dan larangan pada lahirnya, sedang yang dimaksud dengan orang-orang mukmin di sini ialah orang yang membenarkan apa yang harus dibenarkan dengan hatinya.

Dari Anas r.a katanya : "Nabi shalallahu 'alaihi wasallam berjalan melalui seorang wanita yang sedang menangis di atas sebuah kubur. Beliau bersabda : "Bertaqwalah kepada Allah dan bersabarlah!" Wanita itu berkata : "Ah, menjauhlah daripadaku, karena Tuan tidak terkena musibah sebagaimana yang mengenai diriku dan Tuan tidak mengetahui musibah apa itu." Wanita tersebut diberitahu oleh sahabat beliau shalallahu 'alaihi wasallam bahwa yang diajak bicara tadi adalah Nabi shalallahu 'alaihi wasallam. Ia lalu mendatangi pintu rumah Nabi shalallahu 'alaihi wasallam tetapi di mukanya itu tidak didapatinya penjaga-penjaga pintu. Wanita itu lalu berkata : "Saya tadi memang tidak mengenal bahwa yang berbicara adalah Tuan,maka itu maafkan pembicaraanku tadi." Kemudian beliau shalallahu 'alaihi wasallam bersabda : "Sesungguhnya bersabar yang sangat terpuji itu ialah dikala mendadaknya kedatangan musibah yang pertama." (Muttafaq 'alaih) Dalam riwayat Muslim disebutkan : "Wanita itu menangisi anak kecilnya yang mati."

Allah lah yang mengatur setiap kehidupan di alam ini, begitu juga dengan kesusahan yang dialami oleh setiap insan.Tak seorangpun luput dari ujianNya, baik merupakan ujian kemiskinan, musibah maupun ujian kekayaan.

Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan. (QS Ali 'Imraan 3 : 186)

"Apakah ujian tersebut tak pernah berhenti?"Sambil mengusap airmatanya, dia melanjutkan "Rasanya diri ini sudah sangat terbebani" Matanya yang memerah, mengawang entah melihat apa.

Benar juga, pertama kali beban berat yang harus dipikulnya adalah ketika dia kehilangan suami disaat anak anak masih kecil, lalu ketika dewasa, anak yang dibesarkan dengan penuh sayang, sekarang menyakiti hati dengan pemberontakan demi seorang lelaki yang tiba tiba muncul merenggut kebahagiaan seorang ibu yang sekian lama telah memberikan seluruh cinta dan kasihnya hanya kepada anak tercinta.

Memikirkan itu, terbayang wajah almarhum dan almarhumah yang telah meninggalkan kami sekian lama, betapa diri ini andai diberi kesempatan oleh Allah, akan mengorbankan seluruh dunia ini buat ayah dan ibunda tercinta. Namun kematian yang telah terjadi tidak memiliki kesempatan lagi buat memperbaiki apapun.

Aneh memang, manusia selalu berharap semua bisa diperbaiki disaat kesempatan telah hilang, padahal ketika masih memiliki peluang, kita sering menyia nyiakannya. Alangkah bodohnya diri ini terasa .

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri." (QS Al Ahqaaf 46 : 15)

Sesungguhnya ujian Allah itu tidak pernah melebihi kemampuan seorang insan yang tengah mengalaminya, karena Allah adalah Ar Rahman. Namun tentu saja, siapapun yang dikehendaki Allah takkan pernah luput dari ujian Nya, dan setiap ujian itu memiliki nilai yang menguntungkan bagi orang orang yang sabar dan akan merugikan bagi yang menerimanya dengan keluhan dan ketidak sabaran.

Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah 'Azza wajalla bila menyenangi suatu kaum, Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah. (HR. Tirmidzi)

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." (QS Al Baqarah 2 : 286)

Mendengar beberapa potongan hadits dan ayat dari Kitabullah yang telah diberikan kepadanya, sahabat tersebut menoleh dengan nanar, namun ada percikan semangat dibalik tatapannya, semoga ... !

fabiayyi ala irabbikuma tukadziban --> Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan

Alhamdulillah ... kureguk airmata ini kedalam dada ... betapa Engkau Ar Rahman, memberikan petunjuk pada orang orang yang Engkau kehendaki ... berikanlah petunjukMu untukku dan untuk saudara saudara muslimku semuanya Ya Allah ... Aamiin ya Rabb ...

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (QS Al Qashsash 28 : 56)

Wallahu a'lam bishshawab ...



Rabu, 24 Agustus 2011

Dekadensi Moral


Dekadensi Moral by Alexyusandria on RM Terbit Jum’at 14 Januari 2011 08:03

Manusia diciptakan Allah tak lain dan tak bukan dengan satu tujuan yaitu untuk beribadah kepadaNya. Dan cara beribadah manusia itu diajarkan Allah melalui utusanNya yaitu para Nabi yang sengaja dikirim untuk memberi pelajaran kepada manusia berdasarkan petunjuk dari Allah subhanahu wata’ala. Dan kepada ummat Islam, Allah mengirimkan utusanNya yang mulia yaitu Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk memperbaiki akhlak manusia yang saat itu berada dalam jurang kejahilan.

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS Adz Dzaariyaat 51 : 56)

Dalam suatu hadist shahih Rasulullah sahalalahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (HR. Al Bazzaar) 

Kemudian ketika manusia semakin berkembang dan banyak, beragam cara manusia dalam mengapilkasikan kehidupannya, baik yang sesuai syar’i maupun yang ingkar. Meskipun akhlak terbaik itu telah ada dalam diri Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk dapat diteladani oleh ummat setelahnya, namun tetap saja banyak dari kita yang berlaku jahil meskipun hidup jauh setelah Rasulullah wafat.

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS AL Ahzaab 33 : 21)

Manusia dengan berbagai pendidikan dan profesi yang berbeda, memiliki tabiat dan prilaku yang tidak sama. Meskipun berpendidikan tinggi, kadangkala perilaku yang ditunjukkan tidak mencerminkan sikapnya yang terdidik. Meskipun berprofesi sebagai negarawan yang seharusnya level berfikir dan kebijaksanaannya lebih tinggi dari rakyat biasa, namun adakalanya sikap mereka mencerminkan sebaliknya.

Diluar pendidikan dan profesi yang dimiliki oleh anak cucu Adam, sebenarnya yang paling utama adalah masing masing mereka memiliki agama sebagai pegangan dalam hidup, namun seringkali agamapun seperti tidak memiliki pengaruh cukup kuat dalam diri insan yang mengaku sebagai hamba Allah ini sehingga sering berlaku zalim terhadap sesamanya.

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (QS An Nahl 16 : 90)

Jika dibandingkan dekadensi moral dizaman dulu dengan sekarang, pada intinya tidak jauh berbeda, kecuali dizaman sekarang cara melakukannya lebih canggih dengan cara yang lebih modern, sesuai dengan perkembangan zaman. Kita ambil contoh masalah perjudian, zaman dulu manusia sudah melakukan perjudian, namun masih dengan cara yang sederhana, namun dizaman sekarang perjudian menjadi lahan bisnis untuk mencari keuntungan yang dilakukan secara terang terangan dengan mempergunakan peralatan yang canggih dengan bentuk permainan yang berbeda.

Begitu juga dengan minuman keras, dimana dizaman sekarang  minuman keras sangat mudah didapat karena telah diperjual belikan secara bebas dengan kemasan yang sangat menawan dan harga yang lebih variatif sesuai dengan kebutuhan konsumen.

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar[136] dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya." Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir, (QS Al Baqarah 2 : 219)

[136]. Segala minuman yang memabukkan.

Bahkan dalam suatu kejadian perzinahan, jika dahulu orang secara sembunyi sembunyi dalam melakukan perzinahan, maka dizaman sekarang, justru banyak terjadi perzinahan yang dilakukan terang terangan oleh anak manusia, bahkan tanpa malu malu menunjukkan prilaku amoralnya tersebut.

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS Al Israa’ 17 : 32)

Ada tiga jenis orang yang diharamkan Allah masuk surga, yaitu pemabuk berat, pendurhaka terhadap kedua orang tua, dan orang yang merelakan kejahatan berlaku dalam keluarganya (artinya, merelakan isteri atau anak perempuannya berbuat serong atau zina). (HR. An-Nasaa'i dan Ahmad)

Dekadensi moral yang banyak melanda masyarakat akhir akhir ini merupakan kelanjutan dari kebobrokan dimasa lalu, jadi bukanlah merupakan hal yang baru. Contoh lainnya adalah masalah hubungan sesama jenis, hal ini telah ada sejak zaman Nabi Luth, dimana dalam kemurkaanNya sebagai pengajaran terhadap ummat setelahnya, Allah menenggelamkan kota tersebut sehingga hilang dari permukaan bumi.

Namun akhlak yang buruk itu disaat ini masih saja dilakukan oleh orang orang yang tidak beriman, karena tiada alasan apapun yang dapat diterima oleh agama Islam sebagai dalih atas terjadinya perbuatan penyimpangan seksualitas tersebut kecuali disebabkan karena rendahnya keimanan yang dimiliki oleh pelaku.

Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu[551], yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?" (QS Huud 11 : 80)

[551]. Perbuatan faahisyah di sini ialah: homoseksual sebagaimana diterangkan dalam ayat 81 berikut.

Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. (QS Huud 11 : 81)

Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, (QS Huud 11 : 82)

Selain peristiwa yang berkaitan dengan seksualitas, juga terdapat kejahatan lainnya yang dilakukan oleh manusia, seperti perbuatan yang saling menghina dan merendahkan diantara sesama, meskipun hanya berupa gurauan saja, baik dalam hal yang berkaitan dengan pribadi, golongan maupun keagamaan.

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda : "Janganlah kalian saling hasut, saling najsy (memuji barang dagangan secara saling berlebihan), benci, saling berpaling, dan janganlah sebagian di antara kalian berjual beli kepada orang yang sedang berjual beli dengan sebagian yang lain, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Muslim adalah saudara muslim lainnya, ia tidak menganiaya, tidak mengecewakannya, dan tidak menghinanya. Takwa itu ada disini -beliau menunjuk ke dadanya tiga kali- Sudah termasuk kejahatan seseorang bila ia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim bagi muslim lainnya adalah haram baik darahnya, hartanya dan kehormatannya." [Riwayat Muslim]

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri[1409] dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman[1410] dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS Al Hujuurat 49 : 11)

[1409]. Jangan mencela dirimu sendiri maksudnya ialah mencela antara sesama mukmin karana orang-orang mukmin seperti satu tubuh.
 
[1410]. Panggilan yang buruk ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan panggilan seperti: hai fasik, hai kafir dan sebagainya.

Ummat Islam juga dilarang berbantah bantahan dengan kaum non muslim , hal ini dapat dilihat dalam Al Qur’an ketika Allah memberikan petunjukNya kepada kaum muslimin dalam firmanNya tentang bagaimana caranya bersikap ketika ada orang orang yang mendebat kebenaran agama Islam.

Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka[1154], dan katakanlah: "Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri." (QS Al ‘Ankabuut 29 : 46)

[1154]. Yang dimaksud dengan orang-orang yang zalim ialah: orang-orang yang setelah diberikan kepadanya keterangan-keterangan dan penjelasan-penjelasan dengan cara yang paling baik, mereka tetap membantah dan membangkang dan tetap menyatakan permusuhan.

Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: "Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku." Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi[190]: "Apakah kamu (mau) masuk Islam." Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (QS Ali ‘Imraan 3 : 20)

[190]. Ummi artinya ialah orang yang tidak tahu tulis baca. Menurut sebagian ahli tafsir yang dimaksud dengan ummi ialah orang musyrik Arab yang tidak tahu tulis baca. Menurut sebagian yang lain ialah orang-orang yang tidak diberi Al Kitab.

Kita sebagai manusia sangat suka sekali berbantah bantahan tentang banyak hal. Bahkan dalam suatu diskusi yang pada mulanya tenang, bisa meningkat menjadi perdebatan sengit yang akhirnya berkembang menjadi permusuhan.

Dari Abu Darda’, Watsilah Ibnul Asqa’, Anas Bin Malik ra, mereka berkata : “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam keluar kepada kami pada suatu hari dan kami sedang berbantah-bantahan dalam suatu urusan agama. Beliau menjadi sangat marah dan tidak pernah sampai seperti itu, kemudian beliau membentak kami dan bersabda, “Tenang wahai umat Muhammad, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian rusak dengan seperti ini. Tinggalkanlah berbantah-bantahan karena kebaikannya sedikit. Tinggalkanlah berbantah-bantahan karena seorang mukmin tidak berbantah-bantahan. Tinggalkanlah berbantah-bantahan karena orang yang saling berbantah-bantahan telah sempurna kerugiannya. Tinggalkanlah berbantah-bantahan, maka cukuplah dosa agar kamu tidak selalu menjadi orang yang berbantah-bantahan. Tinggalkanlah berbantah-bantahan karena orang yang berbantah-bantahan tidak akan aku beri syafa’at pada hari kiamat. Tinggalkanlah berbantah-bantahan, maka aku adalah pemimpin dengan tiga termpat di surga; di kebunnya, di tengahnya, dan di atasnya bagi orang yang meninggalkan berbantah-bantahan dan dia jujur. Tinggalkanlah berbantah-bantahan karena pertama kali yang aku dilarang oleh Rabb ku setelah menyembah berhala adalah berbantah-bantahan. (HR Ath Thabrani) 

Akhlak terbaik yang telah ditunjukkan Rasulullah kepada kita sebagai pengikutnya, sering tidak kita ikuti, hanya karena kita terlalu larut dalam kesibukan duniawi, sehingga kita lupa untuk selalu  berbaik sangka terhadap sesama, juga kadang kadang kita tidak ingat bahwa uang yang kita belanjakan buat kehidupan berkeluarga tidak seluruhnya merupakan hak kita, dan kita telah mengambil yang bukan menjadi hak kita tersebut dengan cara yang tidak halal dan zalim atau bahkan kita tega memfitnah saudara kita seiman hanya demi menggenggam dunia yang menjanjikan kesenangan sesa’at kepada kita.

Begitu banyak hal hal yang tidak baik yang telah kita lakukan, dari hal hal kecil yang sederhana hingga hal hal penting yang jelas halal haramnya dalam kehidupan. Sebagai manusia yang memang dilahirkan bersifat khilaf ini, kita sering lalai dalam mengambil hikmah dari semua prilaku yang ada dan dari peristiwa demi peristiwa yang terjadi. Entah kenapa, kita bahkan sering terpancing oleh mulut kotor seseorang yang mengatakan berbagai hal buruk, padahal Rasulullah telah mengajarkan kepada kita tentang baiknya bersikap sabar dalam menghadapi semua kejadian dalam hidup ini.

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu[99], sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS Al Baqarah 2 : 153)

[99]. Ada pula yang mengartikan: Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat.

Tidak ada kemelaratan yang lebih parah dari kebodohan dan tidak ada harta (kekayaan) yang lebih bermanfaat dari kesempurnaan akal. Tidak ada kesendirian yang lebih terisolir dari ujub (rasa angkuh) dan tidak ada tolong-menolong yang lebih kokoh dari musyawarah. Tidak ada kesempurnaan akal melebihi perencanaan (yang baik dan matang) dan tidak ada kedudukan yang lebih tinggi dari akhlak yang luhur. Tidak ada wara' yang lebih baik dari menjaga diri (memelihara harga dan kehormatan diri), dan tidak ada ibadah yang lebih mengesankan dari tafakur (berpikir), serta tidak ada iman yang lebih sempurna dari sifat malu dan sabar. (HR. Ibnu Majah dan Ath-Thabrani)

Wallahu ‘alam bishshawab ..

Puisi buat saudara saudaraku


Puisi buat saudara saudaraku ... by Alexyusandria Moenir on Tuesday, May 10, 2011 at 9:26pm
Bait ini hanyalah kata kata tak bermakna ...
Jika tiada diantara kita mau mengambil hikmahnya ...

Saudaraku tercinta ...
Telah tertulis digerbang surga nama nama yang berhak berada didalamnya ...
Pernahkah kau intip ... adakah namamu digerbangnya ... ?

Kemudian jika matamu terasa lamur ditingkah banyaknya kesalahan yang dibuat ...
Mampukah kau intip namamu digerbang neraka ... ?

Syair ini hanyalah kalimat indah ...
namun takkan bermakna jika tiada niat memahaminya ...

Saudaraku terkasih ...
Ada saudara kita yang berjuang atas dasar agama yang mulia ini...
lalu insan yang tidak mengerti mengatainya dengan sebutan teroris ...
karena dia meluluh lantakkan kehidupan yang pantas dimusnahkan...
Kemudian ketika coretan buruk itu menghias namanya ...
Adakah engkau berani membelanya ...?

Saudaraku sayang ...
Gerbang surga itu sangat jauh terlihat bagi hati yang kesat ...
Bahkan kian tak nampak oleh perbuatan yang sesat ...
Dan andaikan kesempatan itu kau musnahkan dengan prilaku yang biadab ...
Masa apa lagi yang kau tunggu dalam gumulan daki dunia?

Bait ini teruntai karena rasa ...
Namun tiada asa jika mati hati dalam kubangan dosa ...

Saudaraku seiman ...
Lidah ini sangat lembut terasa ...
namun bisanya menghunjam jauh kerelung hati ...
Karena itu pergunakanlah kata bijak yang bermanfaat...
Bukan untuk menghina saudara muslimmu sendiri...

Tahukah saudaraku yang cendekia ...
Kematian saudara muslimmu bukanlah untuk diperkatakan kesalahannya ..
Karena Allah yang berhak menghakimi jiwa yang telah kembali ...
Dan kewajiban kita adalah menyelenggarakan yang tersisa .. dengan cara yang syar'i ...

Kalimat ini tidaklah sempurna ... hanya berupa untaian rasa ...
untuk jiwa yang menginginkan Jannah ..
Entah melalui jihad ataupun sekedar do'a ...
Setidaknya saudaraku ... janganlah berbicara yang tercela ...
Dibalik punggung orang zalim yang hina .. 

Wallahu a’lam bishshawab ...
Padang, 10 Mei 2011 21:26 WIB


Selasa, 23 Agustus 2011

Bersihkanlah Jiwa dari Debu Bakhil dan Kikir


Bersihkanlah Jiwa dari Debu Bakhil dan Kikir by Alexyusandria on RM terbit Selasa 21 Desember 2010 17:34

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. (QS Al Ma'aarij 70 : 19) 

Sudah berapa banyakkah udara yang kita hirup buat bernafas?Dan pernahkah kita menghitung berapa banyakkah air yang telah kita minum buat melepaskan dahaga?Dan banyak lagi hal hal yang telah kita manfaatkan dialam ini yang merupakan karunia Allah subhanahu wata'ala. Lalu apakah yang telah kita lakukan untuk membalas segala Rahmat dari Allah Subhanhu wata'ala yang tak terhingga ini ..? 

Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.(QS Al Jaatsiyah 45 : 13) 

Sementara kita sebagai hamba yang lebih banyak meminta dan menerima rahmat Allah subhanahu wata'ala, sering berhitung jika melakukan sesuatu buat orang lain.Bahkan kadang kala sangat kikir buat dirinya sendiri. Sehingga sering sebagai manusia kita menghitung jerih payah yang telah kita lakukan buat seseorang, sementara ketika menerima kebaikan orang lain, kita cenderung melupakannya. Naudzu billah min zaliq ... !  

Dua sifat tidak akan bertemu dalam diri seorang mukmin yaitu kikir (bakhil) dan akhlak yang buruk. (HR Ahmad)  

“Kikir dan iman sama sekali tidak akan terhimpun di dalam diri seorang hamba.” (HR At-Tirmidzi, Ahmad, Al-Hakim, Al-Baihaqi dan Al-Baghawi) 

Manusia sering merasa berat hati ketika harus mengeluarkan hartanya buat berbagi kepada saudaranya yang membutuhkan. Dan cenderung merasa takut kekurangan sehingga menumpuk harta sebanyak banyaknya untuk memenuhi hasrat duniawinya yang tak pernah cukup.

Nafsu dalam mengikuti kemauan duniawinya, sering membuat manusia lupa bahwa ketika dia mau berbagi buat insan lain, sesungguhnya Allah akan memberikan pengganti yang jauh lebih baik dan banyak dari yang dikeluarkannya. Dan ketika dia kikir, sesungguhnya dia menyempitkan jalannya sendiri ketika diakhirat kelak.

Begitu tercelanya sifap bakhil dan kikir ini bagi seorang hamba, sehingga Allah memberi peringatan melalui firman Nya dalam Al Qur'an : 

Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup[1580], serta mendustakan pahala terbaik,maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.(QS Al Lail 92 : 8 - 11) 

[1580]. Yang dimaksud dengan merasa dirinya cukup ialah tidak memerlukan lagi pertolongan Allah dan tidak bertakwa kepada-Nya. 

Sebagai hamba yang telah banyak menerima rahmat Allah, sudah seharusnya kita juga memiliki kemurahan hati terhadap sesama, karena seluruh yang kita miliki didunia ini merupakan amanah Allah buat kita gunakan semampu kita dijalan Nya.Dan tiada hak kita buat menahan pemberian kepada yang memerlukan, sementara kita memilikinya. 

Saat kita menikmati kesenangan dunia dengan harta yang berkecukupan, sementara disekitar kita banyak sanak saudara yang hidup serba kekurangan, dan membutuhkan pertolongan. Mampukah kita hanya membiarkan saja tanpa upaya buat membantu dengan menyedekahkan sedikit harta kita yang tentu saja dapat meringankan beban orang orang yang sedang kesusahan hidup? 

Banyak ketimpangan hidup yang terjadi dilingkungan sekitar kita, sehingga membuat manusia hidup mengikuti kelompoknya masing masing berdasarkan kelas ekonomi yang berbeda. Jarang kita lihat, bahkan mungkin belum ada terlihat hidup yang berbaur antara sikaya dan simiskin dalam harmoni yang tanpa membeda bedakan kelas dilingkungan masyarakat kita. Suka atau tidak, mungkin kita juga termasuk orang yang membeda bedakan sesama berdasarkan ekonominya. Hal ini membuat manusia menjadi tak acuh dan menganggap bahwa semua yang didapatnya merupakan hak pribadinya yang tak perlu dibagi ke orang lain karena dia telah berusaha keras dengan jerih payah yang telah diusahakannya dalam memenuhi kebutuhan duniawinya..

Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini. (QS Muhammad 47 : 38) 

Allah mencela orang-orang yang tidak mau menginfakkan hartanya di jalan yang telah diperintahkan Allah, seperti berbuat baik kepada orang tua, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat, tetangga yang jauh, ibnu sabil dan hamba sahaya. Mereka pun tidak mengeluarkan hak Allah yang terdapat dalam harta mereka, bahkan menyuruh orang lain berbuat bakhil.

(yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir[296] siksa yang menghinakan.(QS An Nisaa' 4 : 37) 

[296]. Maksudnya kafir terhadap nikmat Allah, ialah karena kikir, menyuruh orang lain berbuat kikir. Menyembunyikan karunia Allah berarti tidak mensyukuri nikmat Allah.  

Menurut bahasa Arab bakhil dan kikir itu merupakan dua hal yang berbeda, dimana bakhil bermakna menahan sesuatu yang wajib, sedangkan kikir atau asy syuh berarti menahan sesuatu yang wajib dan rakus terhadap apa yang menjadi milik orang lain. 

(yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) maka sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.(QS Al Hadid 57 : 24) 

Sungguh tiada kebaikan bagi kita yang bersifat bakhil dan kikir terhadap harta, karena sesungguhnya dalam harta yang kita punyai itu ada hak Allah yang harus kita keluarkan melalui sedekah dan hak orang orang miskin yang mesti kita infakkan berupa zakat harta. 

Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS Ali 'Imran 3 : 180) 

Semoga Allah mengaruniakan kebaikan dalam diri kita sebagai hambaNya yang senantiasa menunjukkan rasa syukur atas ni'mat yang telah diberikan kepada kita dengan berbagi kepada sesama dengan penuh keikhlasan. 

Dan marilah kita sama sama menyadari, bahwa ketika kita harus menghadap Allah kelak disaat ajal menjemput, tak sedikitpun harta yang bisa kita bawa keliang lahat, kecuali yang telah kita nafkahkan dijalan Allah. Dan harta yang tidak kita manfaatkan sesuai dengan yang Allah perintahkan sesungguhnya dapat menzalimi diri kita sendiri menuju neraka Jahannam.

Barangsiapa diberi Allah harta dan tidak menunaikan zakatnya kelak pada hari kiamat dia akan dibayang-bayangi dengan seekor ular bermata satu di tengah dan punya dua lidah yang melilitnya. Ular itu mencengkeram kedua rahangnya seraya berkata, "Aku hartamu, aku pusaka simpananmu." Kemudian nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam membaca firman Allah surat Ali Imran ayat 180: "Dan janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi." (HR. Bukhari) 

Wallahu a'lam bishshawab ...

Buat Saudari Perempuanku


Buat Saudari Perempuanku by Alexyusandria Moenir on Tuesday, April 19, 2011 at 10:59am
Memandangmu dengan pakaian apik yang serasi dengan jilbab yang engkau gunakan, membuatmu terlihat menawan, duhai saudariku sayang. Namun ada kah engkau sadar bahwa lekukan tubuh yang engkau perlihatkan, menyebabkan engkau telah mengikuti salah satu rayuan iblis yang bernama A’war yang memang bertugas untuk menggunakan pandangan mata, sehingga setiap bagian tubuhmu akan terlihat menarik bagi kaum laki laki.

As-Syaikh Ibnu Utsaimin memiliki perkataan tentang memakai pakaian yang sempit, alangkah baiknya untuk kami sebutkan hal tersebut, beliau berkata : “Memakai pakaian yang sempit yang menampakkan bagian-bagian tubuh yang dapat menimbulkan fitnah dari tubuh wanita adalah perkara yang diharamkan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda : " Dua golongan dari penduduk neraka yang belum saya lihat : sekelompok laki-laki yang ada bersama mereka cambuk seperti ekor-ekor sapi, mereka memukulkannya kepada manusia – maksudnya karena kezhaliman dan aniaya - , dan wanita yang berpakaian lagi telanjang yang menyimpang dari ketaatan Allah dan memakai sanggul yang miring" [HR. Muslim (2128), Ahmad (8351), Malik (1694), dan lafazhnya yang sempurna ada pada riwayat Muslim : (kepala-kepala mereka seperti punuk onta yang miring, mereka tidak masuk ke dalam surga dan tidak pula mendapatkan baunya dan sungguh bau wangi surga didapatkan dari jarak sekian dan sekian)]

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya[1232] ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al Ahzaab 33 : 59)

[1232]. Jilbab ialah sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada.

Mujahid berkata : Ketika wanita itu menghadap, maka Iblis duduk di kepalanya untuk menghiasi wajah wanita tersebut agar tampak menarik bagi orang yang melihatnya, dan jika wanita itu berpaling ke belakang, maka Iblis duduk di pantatnya untuk menghiasi pantat tersebut agar tampak menarik bagi orang yang melihatnya.

Apa yang dikatakan oleh Mujahid diatas itu memang benar, sebab umumnya lelaki bila melihat wanita ketika berhadapan, maka yang pertama kali diperhatikan adalah wajahnya, sedangkan ketika melihat wanita yang berjalan didepannya, maka yang pertama kali diperhatikan adalah pantatnya, karena itu memang tempatnya Iblis.

Nabi Yahya as pernah ditanya : "Apa yang menjadi penyebab perzinaan?". Nabi Yahya as menjawab : "Yang menjadi penyebabnya adalah memandang wanita, lalu timbul dalam hati keinginan untuk berzina dengannya. Zina mata itu termasuk dosa kecil, dan hal ini dapat mendekatkan pada perbuatan dosa besar, yaitu zina farji.

Oleh karena itu, barangsiapa yang tidak mampu menundukkan pandangannya, maka niscaya ia tidak akan mampu menjaga farjinya". Demikian jawaban Nabi Yahya as terhadap penanya tadi.

Nabi Isa as pernah berkata : 'Takutlah kamu memandang (wanita), karena sesungguhnya memandang itu dapat menumbuhkan syahwat didalam hati, dan ini sudah cukup mendatangkan fitnah".

Berkatalah Sa'ad bin Jubair ra : "Sesungguhnya fitnah yang menimpa Nabi Daud as adalah dari memandang (wanita)".

Dan masih banyak orang laki-laki maupun wanita yang berbuat zina yang diawali dari kebiasaan memandang lawan jenisnya yang bukan muhrimnya. Karena memandang merupakan panah Iblis yang sangat ampuh untuk menjerumuskan laki-laki dan wanita ke dalam perbuatan nista yang penuh dengan dosa. Sekarang tidak sedikit orang yang menjadi budak Iblis A'war karena ingin melampiaskan nafsunya.

Saudariku sayang, bukankah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sudah mengajarkan kepada kita para wanita, melalui Kitabullah dan sunnahNya mengenai pakaian yang pantas untuk wanita muslimah yang beriman kepada Allah subhanahu wata’ala?

Katakanlah kepada wanita yang beriman : "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS An Nuur 24 : 31)

“Seorang perempuan tidak diperbolehkan untuk menampakkan diri di hadapan laki-laki yang bukan mahramnya atau keluar ke jalan-jalan dan pusat perbelanjaan dalam keadaan memakai pakaian yang ketat, membentuk lekuk tubuh bagi orang yang memandangnya. Karena dengan pakaian tersebut, perempuan tadi seakan telanjang, memancing syahwat dan menjadi sebab timbulnya hal-hal yang berbahaya. Demikian pula, seorang perempuan tidak diperbolehkan memakai pakaian yang berwarna putih jika warna pakaian semisal itu di daerahnya merupakan ciri dan simbol laki-laki. Jika hal ini dilanggar berarti menyerupai laki-laki, suatu perbuatan yang dilaknat oleh Nabi.” (Fatawa al Mar’ah, 2/84, dikumpulkan oleh Muhammad Musnid).

Wahai kesayangan ayahku, sungguh waktu berlalu begitu cepat saat melihatmu telah tumbuh dewasa tanpa pernah disadari. Melihat senyum manis merekah dibibir mungilmu dan ketika mata jelimu memandang dunia ini, ada kekhawatiran tersendiri terhadapmu saudariku. Karena kelak suatu hari, engkau pasti akan membuat para lelaki tertarik untuk memilikimu dan begitu juga dengan dirimu, suatu hari ingin memiliki pria idaman sebagai pendamping hidup.

Namun tahukah engkau belahan diriku, bahwa setiap gerak tubuhmu yang tidak engkau kontrol dalam batas batas yang syar’i akan membuatmu jatuh pada perbuatan zina?

Rasulullah mengingatkan manusia agar berhati hati dalam pergaulan diantara laki laki dan wanita, karena ditakutkan terjadinya zina anggota tubuh.

Berbagai bentuk perzinaan anggota tubuh yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu : “Telah ditulis bagi setiap Bani Adam bagiannya dari zina, pasti dia akan melakukannya, kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lidah (lisan) zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang, kaki zinanya adalah melangkah, sementara kalbu berkeinginan dan berangan-angan, maka kemaluan lah yang membenarkan atau mendustakan.”

Hadits ini menunjukkan bahwa memandang wanita yang tidak halal untuk dipandang meskipun tanpa syahwat adalah zina mata . Mendengar ucapan wanita (selain istri) dalam bentuk menikmati adalah zina telinga. Berbicara dengan wanita (selain istrinya) dalam bentuk menikmati atau menggoda dan merayunya adalah zina lisan. Menyentuh wanita yang tidak dihalalkan untuk disentuh baik dengan memegang atau yang lainnya adalah zina tangan. Mengayunkan langkah menuju wanita yang menarik hatinya atau menuju tempat perzinaan adalah zina kaki. Sementara kalbu berkeinginan dan mengangan-angankan wanita yang memikatnya, maka itulah zina kalbu. Kemudian boleh jadi kemaluannya mengikuti dengan melakukan perzinaan yang berarti kemaluannya telah membenarkan; atau dia selamat dari zina kemaluan yang berarti kemaluannya telah mendustakan. (Lihat Syarh Riyadhis Shalihin karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, pada syarah hadits no. 16 22)

Saudariku sayang, jika suatu hari engkau jatuh cinta pada seorang lelaki, maka berusahalah mengendalikan perasaanmu tersebut, agar dirimu terpelihara dari syahwat yang kelak dapat menjerumuskanmu ke Jahannam yang tak pernah puas membakar manusia manusia yang lalai dan berdosa.

Dalam ajaran yang telah diwasiatkan oleh Rasulullah, saudariku, dilarang seorang laki laki dan seorang perempuan berduaan tanpa muhrim, padahal dalam keadaan asmara membakar dada, tentu saja engkau ingin berduaan saja dengan kekasih hatimu. Nah, sayangku, jika itu terjadi bukankah engkau telah terjerumus dalam melakukan suatu perbuatan khalwat yang sangat dilarang oleh agama?

Dari  Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma : “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka jangan sekali-kali dia berkhalwat dengan seorang wanita tanpa disertai mahramnya, karena setan akan menyertai keduanya.” (HR. Ahmad)

Duhai anak ibuku, bisakah engkau bayangkan jika suatu hari suami yang engkau cintai direbut oleh perempuan lain yang lebih muda dan lebih menarik darimu, adakah hatimu merasakan sakit? Sungguh, janganlah engkau melakukan hal hal yang menyakitkan saudari muslimmu yang lain dengan mengambil sesuatu yang menjadi milik nya secara sah menurut hukum yang syar’i, dengan cara yang tidak baik.

Jika ada seorang lelaki yang telah memiliki istri yang membuatmu ingin memilikinya juga saudariku, datangilah istrinya dan mintalah dengan cara yang baik dan andaikan wanita itu tidak ikhlas terhadap dirimu, maka janganlah memaksakan diri sehingga engkau merusak rumahtangga saudari muslimmu tersebut, dan sekaligus engkau membuat seorang lelaki terjerumus kelubang neraka karena ketika pernikahan keduanya dilakukan dengan mengakibatkan rasa sakit bagi yang lain, maka sesungguhnya lelaki tersebut takkan pernah mampu berlaku adil sesuai dengan keadilan yang diberikan Allah kepadanya.

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil[265], maka (kawinilah) seorang saja[266], atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (QS An Nisaa’ 4 : 3)

[265]. Berlaku adil ialah perlakuan yang adil dalam meladeni isteri seperti pakaian, tempat, giliran dan lain-lain yang bersifat lahiriyah.

[266]. Islam memperbolehkan poligami dengan syarat-syarat tertentu. Sebelum turun ayat ini poligami sudah ada, dan pernah pula dijalankan oleh para Nabi sebelum Nabi Muhammad s.a.w. Ayat ini membatasi poligami sampai empat orang saja.

Saudariku yang cantik, sesungguhnya banyak hal dalam diri kita para wanita yang dapat menimbulkan dosa dan fitnah, bahkan dalam setiap perkataan yang kita lafaskan, kadang kadang terdapat unsur ghibah didalamnya. Tidakkah engkau takut akan akibat yang ditimbulkan dari suatu perkataan yang keluar dari mulutmu wahai belahan diriku?

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : "Barangsiapa menolak (ghibah atas) kehormatan saudaranya, niscaya pada hari kiamat Allah akan menolak (menghindarkan) api Neraka dari wajahnya”. (Hadits Riwayat Ahmad, 6/450, Shahihul Jami’. 6238)

Ghibah ialah mempergunjingkan saudaranya tentang aib lain atau sesuatu yang apabila didengar oleh orang dibicarakan dia akan benci. Dalam sebuah ayat Allah menggambarkan laksana orang memakan daging saudara yang sudah mati.
Allah berfirman :

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS Al Hujuraat 49 : 12)

Belahan diriku, mudah2an kita mampu menjaga diri kita bersama dari perbuatan perbuatan yang kelak menggiring kita ke Jahannam ... Aamiin Ya Rabb ... Dan meskipun hal  yang disampaikan ini sangat sedikit, namun marilah kita coba untuk mengamalkannya ... ^_^

Wallahu a’lam bishshawab ...


Senin, 22 Agustus 2011

Benarkah Pacaran dilarang dalam Islam ... ?


Pacaran atau Ta’aruf ... ? by Alexyusandria Moenir on RM terbit Kamis 06 Januari 2011 20:58
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS Al Israa’ 17 : 32)
Jatuh cinta merupakan hal biasa yang sering terjadi pada kebanyakan insan didunia ini. Tiada yang salah dengan perasaan yang muncul dari lubuk hati masing masing manusia yang diciptakan Allah berpasang pasangan sebagai khalifah dimuka bumi ini. Yang menjadi persoalan penting adalah ketika perasaan menggebu gebu diantara insan yang berlainan kelamin ini menimpa manusia yang masih terbelenggu oleh syahwat yang susah dikendalikan.
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman : "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS An Nuur 24 : 30 – 31)
Rasa cinta yang sedang melanda hati manusia akan menimbulkan perasaan rindu ketika tidak bertemu dan rasa sayang yang ingin dilampiaskan. Semua hal ini tentu saja menjadi masalah besar ketika dikembalikan kepada aturan yang syar’i mengenai pergaulan yang terlibat rasa diantara pasangan anak cucu Adam. Dimana di Indonesia jatuh cinta yang bersambut ini akan menyebabkan terjadinya jalinan yang disebut dengan pacaran. Sementara dalam berpacaran sering terjadi pertemuan pribadi antara dua insan berlainan jenis, entah ditengah keramaian ataupun ditempat tempat sepi.
Sementara secara syra’i hubungan pacaran diantara dua orang berlainan jenis anak cucu Adam ini tidak diperbolehkan karena bisa menyebabkan terjadinya kemungkaran akibat pelanggaran syari’at. Seperti kedekatan yang kadang tidak berbatas antara laki laki dan wanita terutama yang sedang dimabuk asmara, dimana bercampur baurnya antara laki laki dan wanita yang bukan mahram yang dikenal dengan penyebutan Ikhtilath ini sangat dilarang oleh agama.
Dalam pelaksanaan ibadah shalat dimesjid saja, Rasulullah memisahkan tempat antara jema’ah laki laki dan jema’ah wanita. Dimana jema’ah laki laki diletakkan pada shaf depan, sementara jema’ah wanita bershalat di shaf belakang dengan pemisahan oleh suatu tabir, agar tidak bercampur baur.
“Sebaik-baik shaf pria adalah shaf yang awal dan sejelek-jelek shaf pria adalah yang akhirnya. Sebaik-baik shaf wanita adalah shaf yang terakhir dan sejelek-jelek shaf wanita adalah yang paling awal.” (Shahih, HR. Muslim, no. 440)
Bahkan setelah selesai shalatpun, Rasulullah tidak beranjak dari tempat duduknya demi memberikan kesempatan pada jema’ah wanita untuk beranjak meninggalkan mesjid terlebih dahulu, agar tidak berpapasan dengan jema’ah laki laki.
Menurut Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah : “Hal itu dikarenakan dekat shaf terdepan wanita dari shaf terakhir lelaki sehingga merupakan shaf terjelek dan jauh shaf terakhir wanita dari shaf terdepan lelaki sehingga merupakan shaf terbaik. Kita sama sama mengetahui bahwa dalam keadaan dan suasana ibadah tentu seseorang lebih jauh dari perkara-perkara yang berhubungan dengan syahwat. maka bagaimana kiranya jika  ikhtilath itu terjadi di luar ibadah? Sedangkan setan bergerak dalam tubuh Bani Adam begitu cepat mengikuti peredaran darah . Bukankah sangat ditakutkan terjadi fitnah dan kerusakan besar karenanya?”

Selain itu sangat dilarang terjadinya suatu kondisi berdua duaan antara seorang laki laki dan wanita yang bukan mahram ini apalagi ditempat sepi atau disebut juga dengan istilah khalwat, karena dapat menyebabkan kehadiran pihak ketiga yaitu setan yang selalu menggoda anak cucu Adam agar melakukan kemungkaran, yaitu zina.
“Jangan sekali-kali salah seorang kalian berkhalwat dengan wanita, kecuali bersama mahram.” (Muttafaq ‘alaih, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma)
Dari  Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma : “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka jangan sekali-kali dia berkhalwat dengan seorang wanita tanpa disertai mahramnya, karena setan akan menyertai keduanya.” (HR. Ahmad)

Godaan akibat terjadinya khalwat antara laki laki dan wanita ini dapat membangkitkan syahwat yang bisa menimbulkan perbuatan zina. Sementara perzinahan yang ada antara laki laki dan wanita, melibatkan semua anggota tubuh, bukan saja disebabkan oleh perbuatan suami istri antara laki laki dan perempuan. Didalam suatu hadist, Rasulullah mengingatkan manusia agar berhati hati dalam pergaulan diantara laki laki dan wanita, karena ditakutkan terjadinya zina anggota tubuh ini.

Berbagai bentuk perzinaan anggota tubuh yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu : “Telah ditulis bagi setiap Bani Adam bagiannya dari zina, pasti dia akan melakukannya, kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lidah (lisan) zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang, kaki zinanya adalah melangkah, sementara kalbu berkeinginan dan berangan-angan, maka kemaluan lah yang membenarkan atau mendustakan.”

Hadits ini menunjukkan bahwa memandang wanita yang tidak halal untuk dipandang meskipun tanpa syahwat adalah zina mata . Mendengar ucapan wanita (selain istri) dalam bentuk menikmati adalah zina telinga. Berbicara dengan wanita (selain istrinya) dalam bentuk menikmati atau menggoda dan merayunya adalah zina lisan. Menyentuh wanita yang tidak dihalalkan untuk disentuh baik dengan memegang atau yang lainnya adalah zina tangan. Mengayunkan langkah menuju wanita yang menarik hatinya atau menuju tempat perzinaan adalah zina kaki. Sementara kalbu berkeinginan dan mengangan-angankan wanita yang memikatnya, maka itulah zina kalbu. Kemudian boleh jadi kemaluannya mengikuti dengan melakukan perzinaan yang berarti kemaluannya telah membenarkan; atau dia selamat dari zina kemaluan yang berarti kemaluannya telah mendustakan. (Lihat Syarh Riyadhis Shalihin karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, pada syarah hadits no. 16 22)

Perbuatan terlarang antara laki laki dan wanita ini dapat terjadi, karena iblis telah memberikan godaan melalui keindahan yang dimiliki oleh wanita, sehingga laki laki sulit buat mengendalikan syahwatnya ketika matanya melihat wanita yang berlenggang lenggok didepannya. Dan hal ini ditambah dengan banyaknya para wanita berpenampilan yang tidak sesuai dengan syari’at, yaitu tidak menutupi anggota tubuhnya dengan baik, namun malahan menampakan keelokan tubuhnya secara terbuka, sehingga mudah terlihat oleh siapapun terutamanya laki laki.
Apalagi jika terdapat suatu perasaan cinta antara laki laki dan wanita, maka alangkah sulitnya buat pasangan itu mengendalikan diri dalam melampiaskan perasaan sayang kepada pasangannya masing masing. Sehingga terjadilah hal hal yang tidak diridhoi oleh agama terhadap pasangan yang tidak dapat mengendalikan diri ini.
Barangkali inilah yang menyebabkan Islam melarang adanya hubungan pacaran antara laki laki dan wanita, namun mengatur hubungan tersebut melalui ta’aruf yang tentu saja lebih selamat secara syar’i. Dan cara yang ditunjukkan oleh syariat untuk mengenal wanita yang hendak dilamar adalah dengan jalan mencari keterangan mengenai yang bersangkutan melalui seseorang yang mengenalnya, baik karakter, sifat, atau hal lainnya yang dibutuhkan untuk diketahui demi kebaikan suatu pernikahan. Bisa pula dengan cara meminta keterangan kepada wanita itu sendiri melalui perantaraan seseorang seperti istri teman atau yang lainnya. Dan pihak yang dimintai keterangan berkewajiban untuk menjawab secara jujur dan seobyektif mungkin, meskipun harus membuka aib wanita tersebut karena ini bukan termasuk dalam kategori ghibah yang tercela. Hal ini termasuk dari enam perkara yang dikecualikan dari ghibah, meskipun menyebutkan aib seseorang. Demikian pula sebaliknya dengan pihak wanita yang berkepentingan untuk mengenal lelaki yang berhasrat untuk meminangnya, dapat menempuh cara yang sama.
Dalil yang menunjukkan hal ini adalah hadits Fathimah bintu Qais ketika dilamar oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan Abu Jahm, lalu dia minta nasehat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka beliau bersabda : “Adapun Abu Jahm, maka dia adalah lelaki yang tidak pernah meletakkan tongkatnya dari pundaknya . Adapun Mu’awiyah, dia adalah lelaki miskin yang tidak memiliki harta. Menikahlah dengan Usamah bin Zaid.” (HR Muslim)
Para ulama juga menyatakan bolehnya berbicara secara langsung dengan calon istri yang dilamar sesuai dengan tuntunan hajat dan maslahat. Akan tetapi tentunya tanpa khalwat dan dari balik hijab. Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’ (130-129/5 cetakan Darul Atsar) berkata : “Bolehnya berbicara dengan calon istri yang dilamar wajib dibatasi dengan syarat tidak membangkitkan syahwat atau tanpa disertai dengan menikmati percakapan tersebut. Jika hal itu terjadi maka hukumnya haram, karena setiap orang wajib menghindar dan menjauh dari fitnah.”
Begitu banyak peringatan dan pengajaran Allah dan RasulNya kepada manusia mengenai bahaya yang ditimbulkan akibat ikhtilath ini, namun dalam amalannya, semuanya tergantung kepada masing masing insan yang terlibat dalam mengendalikan syahwatnya. Karena sejujurnya, bukanlah merupakan pekerjaan mudah bagi orang yang tengah dilanda asmara untuk mengendalikan syahwat yang ditimbulkan oleh perasaan yang berkecamuk didalam sanubarinya masing masing, kecuali mereka tetap berpegang teguh pada Al Qur’an dan Sunnah yang telah diwariskan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita ummatnya.

Wallahu ‘alam bish shawab ...