Minggu, 11 September 2011

Terlihat Mudah namun Berat


Terlihat Mudah namun Berat by Alexyusandria Moenir on Tuesday, December 14, 2010 at 7:29pm
Dalam kehidupan sehari hari, sering kita menganggap enteng suatu perbuatan baik yang disuruh agama buat kita lakukan. Sebagai contoh, betapa mudahnya  menurut kita  untuk berhenti berburuk sangka, tentu tidaklah sulit melakukannya, begitulah hati kita berfikir dengan ringan. Namun ketika harus melakukannya dalam kehidupan sehari hari, tidakkah kita tetap sering berburuk sangka pada saudara kita walau hanya berupa hal yang kecil saja?

Berhati-hatilah terhadap buruk sangka. Sesungguhnya buruk sangka adalah ucapan yang paling bodoh. (HR. Bukhari)

Agama mengajarkan kita untuk berbagi dalam bentuk zakat harta dan sedekah buat membantu sesama kita yang kekurangan, karena didalam harta kita ada hak orang lain yang harus kita tunaikan. Namun ketika kita bertemu dengan pengemis dijalanan, jangankan berbagi, melihat saja kita sering tidak mau. Tidakkah bersedekah itu merupakan hal yang sangat sederhana dan mudah?

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perkataan yang tidak berguna dan kotor, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Maka barangsiapa yang mengeluarkannya sebelum shalat, ia menjadi zakat yang diterima dan barangsiapa mengeluarkannya setelah shalat, ia menjadi sedekah biasa. [HR Abu Dawud dan Ibnu Majah. Hadits shahih menurut Hakim]

Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum mengadakan pembicaraan dengan Rasul? Maka jika kamu tiada memperbuatnya dan Allah telah memberi taubat kepadamu maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al Mujaadilah 58 : 13)

Alangkah ringannya suatu amalan yang baik ketika diucapkan oleh lidah, namun menjadi berat ketika harus dilakukan dalam bentuk perbuatan. Begitulah kita manusia dalam menjalani kehidupan didunia ini, sering berangan angan dalam menjalani kehidupan, dan sering berbuat ingkar.

Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. (QS An Nisaa' 4 : 120)

Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka). (QS Al Hijr 15 : 3)

Padahal Allah telah mengirimkan utusanNya seorang manusia yang mulia, yaitu Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam untuk memperbaiki akhlak manusia didunia ini melalui ajaran Islam yang telah disempurnakan Allah untuk kita jalani sesuai dengan tuntunan yang telah ditinggalkan oleh Al Amin tersebut yaitu Al Qur'an dan Sunnah.

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. (HR.Al Bazzaar)

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS Al Qalam 68 : 4)

Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (QS Al Baqarah 2 : 269)

Sesungguhnya Allah memberikan perintahNya buat kita ta'ati adalah demi kepentingan diri kita juga, karena kitalah yang membutuhkan Allah subhanahu wata'ala, kita sangat memerlukan Rahman dan RahimNya, kita memerlukan PengampunanNya, dan kita memerlukan Nya untuk mengabulkan do'a dan banyak lagi ketergantungan kita terhadap Rahmat Allah subhanahu wata'ala.

Sementara Allah, Dia akan kekal dalam KekuasaanNya yang menciptakan bumi, langit dan semua isinya. Dan Allah tidak membutuhkan manusia kecuali untuk kepentingan manusia itu sendiri.

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah[83]. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS Al Baqarah 2 : 115)

[83]. Disitulah wajah Allah maksudnya; kekuasaan Allah meliputi seluruh alam; sebab itu di mana saja manusia berada, Allah mengetahui perbuatannya, karena ia selalu berhadapan dengan Allah.

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi[161] Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS Al Baqarah 2 : 255)

[161]. Kursi dalam ayat ini oleh sebagian mufassirin diartikan dengan ilmu Allah dan ada pula yang mengartikan dengan kekuasaan-Nya.

Manusia memang sering lalai dalam memenuhi kewajibannya, namun dalam meminta sesuatu yang menurutnya merupakan haknya, manusia tak pernah berlambat lambat.Begitu juga ketika ditanya soal neraka, tak seorangpun mau menjadi penghuninya, namun ketika diminta kewajibannya buat meninggalkan hal hal yang akan menjerumuskannya ke Jahannam tersebut, justru sering terjadi perbuatan yang dilakukan hamba Allah tersebut malah mendorong langkahnya lebih cepat menuju tempat dimana api neraka yang sangat panas dan menyala nyala itu berada diakhirat kelak.

Dan apabila dikatakan kepadanya: "Bertakwalah kepada Allah", bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya. (QS Al Baqarah 2 : 206)

Dan saat Allah memberi ketetapan tentang janji surga buat orang orang beriman dan shaleh, semua ummat menginginkan dirinya berada didalam Jannah yang mulia itu. Namun ketika dituntut kewajiban agama kepadanya, maka alangkah susahnya buat mengamalkannya dan lebih ringan untuk mengabaikannya.

Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu." Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya[32]. (QS Al Baqarah 2 : 25)

[32]. Kenikmatan di syurga itu adalah kenikmatan yang serba lengkap, baik jasmani maupun rohani.

Begitu banyak kelemahan dan kekurangan kita sebagai manusia, marilah kita berusaha untuk memperbaiki dan menambah keimanan kita yang sering menyepelekan kehidupan ini seolah olah yang ada didalamnya hanya dunia ini saja, padahal kehidupan akhirat itu sangat penting sekali karena itulah tempat akhir kita dimana kita harus mempertanggung jawabkan seluruh amalan kita selama hidup didunia ini, sebelum Allah menutup semua pintu kebaikan buat kita, berupa petunjuk dan hidayah Nya.

Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai. Pastilah bahwa mereka di akhirat nanti adalah orang-orang yang merugi. (QS An Nahl 16 : 107 - 109)
 
Wallahu a’lam bishshawab ... ^_^

Jangan mencela


Jangan mencela by Alexyusandria Moenir on Tuesday, December 21, 2010 at 9:41pm
Dalam pergaulan sehari hari, kita sering bercanda dengan sesama, saling melemparkan kata kata dengan maksud bermain main saja, sehingga tanpa disadari kadangkala kita  melontarkan kata kata yang merendahkan atau mengejek seseorang, meskipun bukan dengn maksud serius. Padahal telah begitu jelas dan gamblang Al Qur'an melarang manusia untuk saling mengejek atau merendahkan sesamanya, walau dengan alasan apapun. Bahkan dalam bersenda guraupun dilarang untuk merendahkan seseorang.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri[1409] dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman[1410] dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS Al Hujuraat 49 : 11)

[1409]. Jangan mencela dirimu sendiri maksudnya ialah mencela antara sesama mukmin karana orang-orang mukmin seperti satu tubuh.

[1410]. Panggilan yang buruk ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan panggilan seperti: hai fasik, hai kafir dan sebagainya.

Syeikh Abdurrahman as Sa’di mengatakan : “Dalam ayat ini terdapat penjelasan tentang sebagian hak seorang mukmin dengan mukmin yang lain. Yaitu janganlah sekelompok orang mengejek sekelompok yang lain baik dengan kata-kata ataupun perbuatan yang mengandung makna merendahkan saudara sesama muslim. Perbuatan ini terlarang dan hukumnya haram. Perbuatan ini menunjukkan bahwa orang yang mengejek itu merasa kagum dengan dirinya sendiri. Padahal boleh jadi pihak yang diejek itu malah lebih baik dari pada pihak yang mengejek. Bahkan inilah realita yang sering terjadi. Mengejek hanyalah dilakukan oleh orang yang hatinya penuh dengan akhlak yang tercela dan hina serta kosong dari akhlak mulia.

Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :Cukuplah seorang itu dinilai jahat jika dia merendahkan saudaranya sesama muslim(HR Muslim dari Abu Hurairah)[Taisir al Karim al Rahman fi Tafsir Kalam al Mannan hal 953, terbitan Dar Ibnul Jauzi].


Dalam kegembiraan bergaul, manusia masih saja merasa sulit buat menjaga lisannya, apalagi dalam keadaan emosi, dimana amarah lebih menguasai hati dibandingkan akal sehat, sehingga kita sering menyakiti saudara kita tanpa peduli apa yang dirasakannya akibat kata kata yang telah kita keluarkan.

Lisan yang tak terjaga tersebut sebenarnya telah membuat malu diri orang yang mengeluarkannya, meskipun dia bermaksud untuk menyakiti seseorang yang ditujunya. Sesungguhnya kata kata yang dikeluarkan seseorang sebenarnya menunjukkan budi bahasa yang dimilikinya.

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda : “Mencela sesama muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekufuran” (Bukhari no.46,48, muslim no. .64,97, Tirmidzi no.1906,2558, Nasa’I no.4036, 4037, Ibnu Majah no.68, Ahmad no.3465,3708)

Banyak jalan dan cara bagi manusia buat mengejek dan merendahkan sesamanya.Kadang kadang seseorang yang berharta merendahkan orang yang kurang berpunya, atau bisa saja seseorang yang merasa lebih banyak ilmunya merendahkan orang yang kurang berpengetahuan. Karena pada dasarnya masing masing individu berbeda beda levelnya dalam sisi harta, ilmu pengetahuan maupun sisi keimanan. 

Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, (QS Al Humazah 104 : 1)

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Utsman dan Ibnu Umar berkata: "Masih segar terdengar di telinga kami bahwa ayat ini (S.104:1,2) turun berkenaan dengan Ubay bin Khalaf, seorang tokoh Quraisy yang kaya raya, yang selalu mengejek dan menghina Rasul dengan kekayaannya." (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi hatim yang bersumber dari Utsman dan Ibnu Umar)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ayat ini (S.104:1,2,3) turun berkenaan dengan al-Akhnas bin Syariq yang selalu mengejek dan mengumpat orang. Ayat ini turun berkenaan sebagai teguran terhadap perbuatan seperti itu.(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi hatim yang bersumber dari as-Suddi)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ayat ini (S.104:1-3) turun berkenaan dengan Jamil bin Amir al-Jumbi seorang tokoh musyrik yang selalu mengejek dan menghina orang. (Diriwayatkan oleh Ibnu jarir yang bersumber dari seorang suku Riqqah)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa Ummayah bin Khalaf selalu mencela dan menghina Rasulullah apabila berjumpa dengannya. Maka Allah menurunkan ayat ini (S.104: sampai akhir surat) sebagai ancaman siksa yang sangat dahsyat terhadap orang-orang yang mempunyai anggapan dan berbuat seperti itu. (Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir yang bersumber dari Ibnu Ishaq)

Manusia dengan kebodohan yang ada padanya sering bermain main dengan olok olok tentang banyak hal, bahkan dalam masalah agama. Padahal Allah dalam Al Qur'an telah mengingatkan dengan firmanNya : 

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja." Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?"Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. (QS At Taubah 9 : 65 - 66)

Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya[302]. Mereka berkata : "Kami mendengar", tetapi kami tidak mau menurutinya[303]. Dan (mereka mengatakan pula) : "Dengarlah" sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa[304]. Dan (mereka mengatakan) : "Raa'ina"[305], dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan : "Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami", tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis.(QS An Nisaa' 4 : 46)

[302]. Maksudnya: mengubah arti kata-kata, tempat atau menambah dan mengurangi.

[303]. Maksudnya mereka mengatakan : Kami mendengar, sedang hati mereka mengatakan: Kami tidak mau menuruti.

[304]. Maksudnya mereka mengatakan: Dengarlah, tetapi hati mereka mengatakan: Mudah-mudahan kamu tidak dapat mendengarkan (tuli)

[305]. Lihat no. [80]. Raa 'ina berarti: sudilah kiranya kamu memperhatikan kami. Di kala para sahabat menghadapkan kata ini kepada Rasulullah, orang Yahudipun memakai kata ini dengan digumam seakan-akan menyebut Raa'ina padahal yang mereka katakan ialah Ru'uunah yang berarti kebodohan yang sangat, sebagai ejekan kepada Rasulullah. Itulah sebabnya Tuhan menyuruh supaya sahabat-sahabat menukar perkataan Raa'ina dengan Unzhurna yang juga sama artinya dengan Raa'ina

Semoga kita akan lebih berhati hati dalam bersenda gurau dan mempermainkan kata kata, karena sesungguhnya kata kata lah yang sering menjerumuskan seseorang pada keburukan akhlak.

Allah tidak menyukai ucapan buruk[371], (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya[372]. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS An Nisaa' 4 : 148)

[371]. Ucapan buruk sebagai mencela orang, memaki, menerangkan keburukan-keburukan orang lain, menyinggung perasaan seseorang, dan sebagainya.

[372]. Maksudnya: orang yang teraniaya boleh mengemukakan kepada hakim atau penguasa keburukan-keburukan orang yang menganiayanya.

Wallahu a'lam bishshawab ...


Sabtu, 10 September 2011

Berhati hatilah dalam Berbantah bantahan ..


Berhati hatilah dalam Berbantah bantahan .. by Alexyusandria Moenir on Friday, December 24, 2010 at 11:04pm
Dalam pergaulan sehari hari, sering kita berbenturan dalam perbedaan pendapat mengenai banyak hal. Bisa saja kita berbeda pendapat dalam hal hal sederhana maupun dalam hal yang agak sensitif, seperti masalah agama. Untuk hal ini dibutuhkan kebijaksanaan dari masing masing pihak untuk tidak terjerumus kepada hal hal yang merusak hubungan duniawi antar sesama. Karena itu penting untuk disadari oleh kita sebagai hamba Allah, bahwa Islam telah mengatur cara hidup ummatnya dengan memberikan pegangan berupa Al Qur'an dan Sunnah.
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.(QS An Nisaa' 4 : 59)
Sebagai ummat Muslim, jauh sebelum kita hidup dizaman sekarang ini, sebenarnya Rasulullah telah mengingatkan kita tentang banyaknya pertentangan yang mungkin timbul diantara ummatnya.Meskipun telah banyak contoh teladan yang diajarkan dan diamalkan oleh Al Amin tersebut untuk kita ummatnya, namun tetap saja ada banyak hal yang menjadi pertentangan akibat perbedaan pendapat tentang sesuatu.
Hadis yang diriwayatkan oleh Al-Ardabdh bin Sariyah r.a. yang berkata : “Rasullullah menasehati kami dengan nasehat yang menggentarkan hati dan membuat air mata menetes, Maka kami berkata, "Wahai Rasulullah, sepertinya nasehatnya nasihat yang terakhir. Maka berikanlah wasiat kepada kami“. Rasullullah bersabda : "aku berwasiat kepada kalian agar kalian bertakwa kepada Allah, mendengar dan mentaati sekalipun kalian dipimpin oleh seorang budak. Sesungguhnya barangsiapa diantara kamu yang diberi umur panjang, maka dia akan melihat berbagai macam perselisihan, oleh sebab itu, pegang eratlah sunnahku dan sunnah para khulafa’ur rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah erat ia dengan gigi gerahammu. Jauhilah masalah-masalah bid’ah karena sesungguhnya setiap bid’ah adalah sesat“. (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Ibn Hibban dalam shahihnya. Tirmidzi mengatakan ini merupakan hadits hasan shahih“)
Sebenarnya tidaklah salah jika ada terjadi perbedaan pendapat, karena masing masing kita punya pola fikir sendiri sesuai dengan ilmu pengetahuan dan pendidikan yang kita miliki. Namun sering terjadi perbedaan pendapat diantara sesama semakin berlarut larut hingga bisa sangat memburuk ketika hujjah yang disampaikan tidak memiliki dasar yang pasti, dan lebih sering keluar karena terpancing secara emosional dalam menanggapi suatu masalah yang timbul.
Terutama berbantah bantahan dalam masalah agama, dilarang oleh Allah subhanahu wata'ala dalam firmanNya :
Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.(QS Al Anfaal 8 : 46)
Berbantah bantahan mengenai agama dapat menyebabkan perpecahan, terutama ketika dalam berbantah bantahan tersebut, ilmu yang dimiliki mengenai masalah yang diperdebatkan masih kurang,ditambah dengan sifat egois yang merasa benar sendiri, sehingga terpiculah pertengkaran karena kehilangan kendali diri. Dan hal ini telah diingatkan oleh Rasulullah, jauh sebelum kita ada dizaman sekarang ini. 
Nabi Muhammad Shallallahu ’Alaihi wa Sallam bersabda : “Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari Ahlul Kitab telah berpecah belah menjadi 72 golongan. Sesungguhnya (ummat) agama ini (Islam) akan berpecah belah menjadi 73 golongan, 72 golongan tempatnya di dalam Neraka dan hanya satu golongan di dalam Surga, yaitu Al-Jama’ah.[HR. Abu Dawud (no.4597), Ahmad (IV / 102), al-Hakim (I / 128), ad-Darimi (II / 241). Dishahihkan oleh al-Hakim dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Dishahihkan oleh Syaikh Albani. Lihat Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 203-204)]
Dan banyak terjadi dizaman sekarang ini dimana manusia keluar dari agama seperti yang dikatakan oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam ketika menyebutkan bahwa kelompok Khawarij akan memisahkan diri dari umat, akibat mereka melesat keluar dari agama. Istilah ‘keluar dari agama’ bukan berarti kafir keluar dari Islam, akan tetapi maknanya ialah keluar dari asas Islam, keluar dari hukum-hukum dan batas-batasnya. Istilah ‘keluar dari agama’ kadang kala berarti kekafiran kadang kala tidak sampai kepada batas kafir. Kadang kala bermakna memisahkan diri dari umat Islam, yaitu dari jama’ah, atau memisahkan diri dari jalur Sunnah Nabi yg dilalui oleh Ahlus Sunnah, yang merupakan Ahlu Islam sejati.
Dan Allah memberi peringatan kepada manusia agar tidak menyimpang dari ajaran Islam melalui firmanNya dalam Al Qur'an :
Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu[348] dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.(QS An Nisaa' 4 : 115)
[348]. Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan.
Semoga Allah menambahkan keimanan dan  ilmu pengetahuan kita dalam agama Islam ini dan menjauhkan kita dari kesesatan dan menyesatkan orang lain ... Amien Ya Rabb
Katakanlah: "Hai orang-orang kafir,Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku." (QS Al Kaafiruun 109 : 1 - 6)
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa kaum Quraisy berusaha mempengaruhi Nabi saw. dengan menawarkan kekayaan agar beliau menjadi seorang yang paling kaya di kota Makkah, dan akan dikawinkan dengan yang beliau kehendaki. Usaha ini disampaikan dengan berkata: "Inilah yang kami sediakan bagimu hai Muhammad, dengan syarat agar engkau jangan memaki-maki tuhan kami dan menjelekkannya, atau sembahlah tuhan-tuhan kami selama setahun." Nabi saw menjawab: "Aku akan menunggu wahyu dari Tuhanku." Ayat ini (S.109:1-6) turun berkenaan dengan peristiwa itu sebagai perintah untuk menolak tawaran kaum kafir. Dan turun pula Surat Az Zumar ayat 64 sebagai perintah untuk menolak ajakan orang-orang bodoh yang menyembah berhala.(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa'id bin Mina.) (Diriwayatkan oleh at-Thabarani dan Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Abbas.)
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa kaum kafir Quraisy berkata kepada Nabi saw.: "Sekiranya engkau tidak keberatan mengikuti kami (menyembah berhala) selama setahun, kami akan mengikuti agamamu selama setahun pula." Maka turunlah Surat Al Kafirun (S.109:1-6). (Diriwayatkan oleh Abdurrazaq yang bersumber dari Wahb dan Ibnul Mundzir yang bersumber dari Juraij.)
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa al-Walid bin al-Mughirah, al-'Ashi bin Wa-il, al-Aswad bin Muthalib dan Umayyah bin Khalaf bertemu dengan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam dan berkata : "Hai Muhammad! Mari kita bersama menyembah apa yang kami sembah dan kami akan menyembah apa yang engkau sembah dan kita bersekutu dalam segala hal dan engkaulah pemimpin kami." Maka Allah menurunkan ayat ini (S.109:1-6)
Wallahu a’lam bishshawab ... ^_^

Jumat, 09 September 2011

Menghadapi kerabat yang musyrik

Menghadapi kerabat yang musyrik by Alexyusandria Moenir on Sunday, December 26, 2010 at 9:47am
Persolan akidah merupakan rahasia Allah subhanahu wata'ala, karena itu diantara manusia ini ada yang bertakwa kepada Alalh dan ada juga yang ingkar. Dan tidak setiap manusia diberikan petunjuk dan hidayah oleh Allah subhanahu wata'ala.
Jika mereka tetap berpaling, maka sesungguhnya kewajiban yang dibebankan atasmu (Muhammad) hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang[834].(QS An Nahl 16 : 82)
[834]. Maksudnya: Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam tidak dapat memberi taufiq dan hidayah kepada seseorang sehingga dia beriman.
Begitu juga dalam kehidupan berkeluarga, adakalanya diantara bersaudara yang terlahir muslim semuanya, salah satunya menjadi ingkar, begitu juga ketika Allah memberikan hidayahNya buat seseorang yang terlahir bukan dari keluarga Muslim, namun berkat hidayah Taufik yang diberikan Allah, maka dia memeluk ajaran Tauhid ini yaitu Islam.
Ketika terjadi perbedaan akidah antara seorang anak yang menjadi muslim dengan keluarga yang bukan muslim, maka akan banyak pertentangan yang timbul akibat perbedaan akidah tersebut. Dan Al Qur'an memberikan petunjukNya buat kita menghadapi persoalan tersebut, agar manusia dapat mengambil hikmah pelajaran dari Nya.
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS Luqman 31 : 15)
Maksud yang dikandung dari QS Luqman ayat 15 diatas dapat dijelaskan berdasarkan Tafsir Al Azhar karangan Buya Hamka Juzu’ 21 halaman 5568 sebagai berikut :
Jika kedua orang tua menyuruh si anak buat mengikutinya dalam mempersekutukan Allah, artinya sianak diajak oleh orang tua untuk menukar ilmu dengan kebodohan dan menukar Tauhid dengan kesyirikan, dalam hal ini Allah memberi pedoman melalui sambungan ayat tersebut yaitu “maka janganlah kamu mengikuti keduanya”.
Dan kemudian dilanjutkan dengan “Dan Pergauilah keduanya didunia dengan baik” artinya bahwa keduanya selalu dihormati, disayangi dicintai dengan sepatutnya, dengan yang ma’ruf. Jangan mereka dicaci dan dihina, melainkan tunjukkan saja bahwa memang berbeda antara akidah anak dengan akidah kedua orang tua yang masih musyrik. Dan andaikan mereka sudah tua, asuhlah mereka dengan baik. Tunjukkanlah bahwa seorang muslim adalah seorang budiman tulen !
Menurut Riwayat, hal ini terjadi pada sahabat Rasulullah shalallau ‘alaihi wa sallam yang bernama Sa’ad. Menurut tafsir Ibnu Katsir ialah Sa’ad bin Malik, tetapi menurut tafsir al Qurthubi dan yang lain terjadi pada diri Sa’ad bin Abu Waqqash. Sa’ad bercerita : “Aku ini adalah seorang yang sangat khidmat kepada ibuku.Setelah aku masuk Islam ibuku berkata :”Apakah yang telah aku lihat terjadi pada dirimu ini?Engkau tinggalkan agamamu ini atau aku tidak makan tidak minum sampai aku mati, sehingga semua orang menyalahkan engkau, dikatakan orang “Hai Pembunuh ibunya!”
Lalu aku jawab : “Jangan engkau berbuat begitu wahai ibuku! Aku tidak akan meninggalkan agamaku ini walaupun apa sebabnya.”
Maka diapun tidak mau makan sampai sehari semalam. Setelah hari pagi, kelihatan dia sudah letih. Ditambahnya sehari semalam lagi tidak makan dan tidak minum.Paginya dia sudah sangat letih.Lalu sudah hari ketiga, dia tidak makan dan tidak minum sehari semalam pula.Paginya dia tidak dapat bangkit lagi karena letihnya.Setelah aku lihat keadaannya demikian, berkatalah aku :”Wahai ibuku! Hendaklah ibu ketahui, walaupun ibu mempunyai 100 nyawa, lalu nyawa itu lepas dari tubuh ibu satu demi satu, tidaklah aku akan meninggalkan agamaku ini. Kalau ibu suka lebih baik ibu makan. Kalau tidak suka teruslah tidak makan.”
“Mendengar jawabku setegas itu akhirnya beliau makan juga.” Begitulah riwayat kejadian antara Sa’ad dengan ibunya itu.
Lalu sambungan ayat “dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku” Yaitu jalan yang ditempuh oleh orang orang yang beriman. Karena itulah jalan yang selamat,jalan yang tidak berbahaya.
Kemudian dilanjutkan dengan ayat “kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu”. Karena datangnya kita ini adalah dari Allah, perjalanan hidup didunia ini dalam jalinan Allah dan kelak akan pulang kepadaNya jua, “maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan” (ujung ayat 15). Allah lah kelak yang akan menilai buruk baiknya apa yang kita amalkan sekalian didunia ini. Sebab itulah maka dari sekaranglah bimbingan Allah wajib diterima, dengan menempuh jalan yang ditempuh oleh orang orang yang beriman. Jangan menempuh jalan sendiri.
Mudah mudahan kita semua bisa mengambil pelajaran dari hikmah yang telah diberikan oleh Kitabullah yang Alhamdulillah diturunkan oleh Allah subhanahu wata’ala kepada kita sebagai ummat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam ...
Wallahu a’lam bishshawab ...